fokus6.net, JAKARTA – Presenter sekaligus Ketua Umum Asosiasi Kreator Konten Seluruh Indonesia (AKKSI), Helmy Yahya, menyoroti polemik konten kreator Emanuel Bryan alias Ebem yang merekam seorang SPG di ajang GIIAS 2026 tanpa sepengetahuan perempuan tersebut.

Kontroversi bermula ketika Ebem merekam interaksi menggunakan kamera yang terpasang di kacamatanya. Setelah itu, ia mengolah rekaman tersebut menjadi konten dan mengunggahnya ke media sosial.

Persoalan kemudian memicu perhatian publik. Sebab, SPG tersebut meminta Ebem menghapus videonya. Namun, Ebem disebut meminta biaya produksi sebagai syarat untuk menurunkan konten itu.

Melalui akun Instagram pribadinya @helmyyahya, Helmy menyampaikan teguran secara terbuka. Selain itu, ia mengingatkan seluruh kreator konten agar tidak mengesampingkan etika demi mengejar tayangan.

“Hai Ebe Martono, kau dengarin ya. Saya sebagai ketua asosiasi kreator content seluruh Indonesia ingin mengingatkan harus punya etikalah sebagai content creator ya,” ujar Helmy.

Menurut Helmy, setiap kreator harus meminta izin sebelum menayangkan rekaman yang menampilkan seseorang secara khusus. Karena itu, ia menilai langkah tersebut merupakan bagian dari etika dasar dalam membuat konten.

“Merekam-merekam orang, apalagi sempat wawancara, enggak boleh menayangkan tanpa izin. Enggak boleh. Ini masalah etika ya,” katanya.

Helmy Yahya Sebut Ebem Bikin Malu

Selain itu, Helmy juga menyoroti sikap Ebem yang disebut meminta bayaran ketika SPG tersebut meminta videonya dihapus.

“Bikin malu pula gitu ya, begitu yang bersangkutan minta take down minta bayaran gitu,” ujarnya.

Helmy kemudian menjelaskan perbedaan antara merekam suasana umum dengan merekam seseorang sebagai fokus utama konten. Menurutnya, seseorang yang hanya kebetulan masuk dalam latar video berbeda dengan orang yang menjadi objek utama rekaman.

“Tapi ini kan wawancara cewek itu juga sudah minta itu di-take down,” tuturnya.

Baca juga  Pengendara Motor Tabrak Rumah di Pelambuan Banjarmasin

Selanjutnya, Helmy mengajak seluruh kreator membangun lingkungan media sosial yang sehat. Ia berharap para pembuat konten saling menghormati dan tidak merugikan orang lain.

“Mari kita jaga iklim sosial media kita menjadi iklim yang menyenangkan, saling menghormati dan jangan merugikan orang lain,” ucapnya.

Helmy juga membagikan pengalamannya saat memproduksi reality show dan social experiment di televisi. Menurutnya, tim produksi selalu meminta persetujuan narasumber sebelum menayangkan hasil rekaman.

“Dulu saya waktu bikin reality show di TV saya banyak bikin begini ya, public atau social experiment seperti ini. Tapi setelah kita rekam pasti kita minta izin apakah ini boleh kita tayangkan, jadi itu etikanya,” kata Helmy.

Menutup pernyataannya, Helmy kembali mengingatkan para kreator agar lebih berhati-hati saat membuat konten. Terlebih, banyak kreator kini menjadikan media sosial sebagai sumber penghasilan.

“Mari deh kita jaga supaya kita ini jangan bikin chaos, jangan bikin hal-hal yang tidak perlu untuk dilakukan. Mari kita memberikan contoh, apalagi kalau kau sudah sempat juga mencari penghasilan dari dunia sosial media, mari kita jaga etika,” tutupnya.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net