Populasi Kerbau di Kabupaten Banjar Terus Menyusut, Padahal Masuk Warisan Banjar
fokus6.net, KABUPATEN BANJAR – Populasi Kerbau yang sejak lama menjadi bagian dari lanskap lahan basah di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kini kian jarang terlihat.
Kerbau yang memakai metode pemeliharaan secara tradisional itu menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan, dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini, pemeliharaan kerbau hanya terpusat di dua wilayah, yakni Kecamatan Cintapuri Darussalam dan Kecamatan Aranio.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, drh Lulu Vila Vardi, menyampaikan bahwa masyarakat Banjar sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam beternak kerbau.
Tradisi tersebut serupa dengan kebiasaan warga di daerah lain di Kalimantan Selatan, seperti Hulu Sungai Utara.
“Sekarang yang masih menjadi sentra hanya di Cintapuri Darussalam dan Aranio,” ujar Lulu pada Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menerangkan bahwa karakteristik kerbau di dua kecamatan tersebut berbeda.
Tersisa di 2 Kecamatan
Di Aranio, jenis kerbau yang lebih menyerupai kerbau sungai atau danau. Sementara itu, di Cintapuri Darussalam, kerbau rawa lebih mendominasi dan hidup di kawasan lahan basah yang menjadi habitat alaminya.
Penurunan populasi kerbau tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah laju reproduksi yang relatif lambat ketimbang ternak sapi.
Kerbau umumnya melahirkan setiap dua hingga tiga tahun sekali, sedangkan sapi dapat beranak dalam rentang satu hingga dua tahun.
“Kerbau biasanya beranak dua sampai tiga tahun sekali. Sementara sapi bisa satu sampai dua tahun sekali, sehingga pertambahan populasinya lebih cepat,” jelas Lulu.
Selain persoalan reproduksi, perubahan lingkungan turut berperan. Di Cintapuri Darussalam, luas rawa yang menjadi tempat hidup kerbau semakin menyempit akibat alih fungsi lahan untuk berbagai aktivitas ekonomi dan pembangunan. Kondisi ini membuat ruang gerak ternak semakin terbatas.
Di Aranio, dinamika berbeda terjadi. Sebagian peternak memilih beralih ke sapi atau jenis ternak lain yang menguntungkan dan lebih mudah dalam pemeliharaan.
“Perubahan lingkungan dan pilihan usaha ternak masyarakat juga ikut memengaruhi jumlah kerbau yang ada,” tambahnya.
Dalam praktiknya, kerbau di Kabupaten Banjar lebih sering menjadi alternatif ketika pasokan daging sapi berkurang.
Harga daging kerbau di pasaran pun tidak terpaut jauh dari daging sapi, sehingga tetap memiliki nilai ekonomis.
“Biasanya kerbau akan jadi alternatif ketika stok sapi menipis,” ujarnya lagi.
Data Triwulan IV tahun 2025 mencatat total populasi kerbau di Kabupaten Banjar sebanyak 560 ekor. Rinciannya, 416 ekor berada di Cintapuri Darussalam, 111 ekor di Aranio, dan 33 ekor di Sungai Pinang.
Kerbau Rawa Warisan Budaya Banjar
Fenomena penyusutan populasi ini terasa kontras dengan pengakuan nasional terhadap kerbau rawa Banjar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2023.
Kerbau rawa tersebut berasal dari Desa Alalak Padang, Kecamatan Cintapuri Darussalam, dan menjadi simbol kekayaan tradisi masyarakat setempat.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Banjar, Ikhwansyah, menyebut penetapan tersebut sebagai bentuk pengakuan atas identitas budaya Banjar di tingkat nasional.
“Kerbau rawa Desa Alalak Padang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia bersama Pasar Terapung Lok Baintan dan Sinoman Hadrah pada 2023,” kata Ikhwansyah.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan