Banjir 2026 Picu 1.297 Hektare Sawah Puso, Ratusan Petani di Kabupaten Banjar Ajukan Klaim Asuransi
fokus6.net, KABUPATEN BANJAR – Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Banjar sejak Desember 2025 meninggalkan dampak serius bagi sektor pertanian. Ribuan hektare lahan persawahan terdampak, dan sebagian besar di antaranya tidak dapat diselamatkan.
Dinas Pertanian (Distan) Banjar mencatat total 1.297 hektare tanaman padi mengalami puso atau gagal panen akibat genangan air yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini terjadi di berbagai sentra produksi yang selama ini menjadi penopang hasil pertanian daerah.
Kepala Distan Banjar, Warsita, mengatakan curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus membuat air menggenangi sawah sejak tahap persemaian hingga tanaman yang sudah dipindah tanam.
“Genangan terjadi cukup lama di sejumlah wilayah sentra produksi. Banyak tanaman tidak bisa diselamatkan,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Data sementara per 19 Januari 2026 menunjukkan, benih padi pada fase persemaian yang terdampak mencapai 6.780 kilogram, ditambah benih lacakan sebanyak 250 kilogram. Sementara itu, luas tanaman padi yang sudah ditanam dan ikut terendam tercatat sekitar 1.563 hektare.
Dari angka tersebut, kegagalan tumbuh pada benih semai mencapai 6.445 kilogram. Benih lacakan yang dinyatakan puso sekitar 147 kilogram, sedangkan tanaman padi yang benar-benar gagal panen mencapai 1.297 hektare.
Wilayah terparah berada di Kecamatan Beruntung Baru dengan luas puso mendekati 991 hektare. Kecamatan Martapura Barat menyusul dengan sekitar 141 hektare, dan Martapura Timur sekitar 121 hektare.
Tak sedikit petani yang memilih mengaktifkan perlindungan asuransi pertanian. Hingga akhir Januari 2026, tercatat 114 petani telah mengajukan klaim atas kerugian akibat gagal tanam maupun gagal panen. Rinciannya, klaim berasal dari Martapura Barat seluas kurang lebih 90 hektare dan Martapura Timur sekitar 24 hektare.
Meski klaim asuransi diproses, pemerintah memastikan para petani tetap diusulkan menerima bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat.
“Asuransi tetap berjalan, tapi itu tidak menghapus hak petani untuk mendapatkan bantuan. Mereka tetap kami masukkan dalam usulan pemulihan,” tegas Warsita.
Saat ini, tim Distan masih melakukan pengecekan lapangan guna memastikan luasan kerusakan secara detail. Hasil verifikasi tersebut akan menjadi dasar pengajuan bantuan, baik melalui APBD maupun dukungan dari Kementerian Pertanian.
“Seluruh lahan terdampak kami inventarisasi untuk diusulkan bantuan, baik melalui APBD maupun dukungan dari Kementerian,” jelasnya.
Koordinasi dengan Kementerian Pertanian juga telah dilakukan, terutama terkait program Optimalisasi Lahan dan Cetak Sawah Rakyat. Bantuan yang diusulkan mencakup penyediaan benih padi serta dukungan sarana dan prasarana pertanian.
Selain itu, sejumlah alat dan mesin pertanian seperti traktor dan mesin tanam sudah disalurkan kepada brigade pangan serta kelompok tani. Langkah ini ditempuh untuk mempercepat proses olah lahan setelah air surut.
Menurut Warsita, percepatan masa tanam menjadi strategi penting agar produksi padi tetap bisa dikejar, apalagi dengan prediksi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih cepat tahun ini.
“Begitu kondisi memungkinkan, petani bisa langsung olah lahan dan tanam kembali. Targetnya tetap bisa dua kali tanam dalam setahun,” katanya.
Di luar komoditas padi, Distan Banjar juga tengah menghitung dampak banjir terhadap tanaman hortikultura seperti cabai. Namun hingga kini, kerusakan paling besar masih terjadi pada sektor persawahan.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan