Meninggal Saat Kabut Asap Kepung Banjarmasin, Ini Pesan Terakhir Guru Honorer Lisna
fokus6.net, BANJARMASIN – Guru honorer di Banjarmasin, Lisna meninggal dunia saat kabut asap mengepung wilayah ini.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, guru honorer berusia 29 tahun itu sempat menitipkan putri kecilnya kepada sang ibu.
Pesan itu kini terus terngiang di benak Marhamah setelah kehilangan anaknya di tengah kabut asap yang menyelimuti Banjarmasin.
Lisna meninggal dunia pada 27 September 2026. Sebelumnya, ia sempat mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada. Keluarga menyebut almarhumah memiliki riwayat asma berat yang kerap kambuh.
Marhamah masih terpukul mengingat kondisi putrinya. Apalagi, dalam sepekan terakhir, Lisna disebut beberapa kali mengalami serangan asma.
Asma Lisna Kerap Kambuh Saat Kabut Asap
Lisna mengajar sebagai guru honorer di SD Tanjung Pagar 3 Banjarmasin. Setiap hari, ia menempuh perjalanan sekitar 30 menit menuju sekolah.
Namun, gangguan pernapasan kerap menghambat aktivitasnya. Menurut keluarga, Lisna beberapa kali meminta izin tidak mengajar karena asmanya kambuh, terutama saat kabut asap menyelimuti kota.
Pada malam sebelum meninggal, Lisna kembali mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada. Keluarga segera memberikan pertolongan menggunakan nebulizer dan oksigen. Setelah itu, mereka membawanya ke rumah sakit.
Namun, upaya tersebut tidak menyelamatkan nyawa Lisna.
Marhamah mengatakan, putrinya memang memiliki riwayat asma cukup parah. Karena itu, keluarga selalu menyiapkan alat bantu pernapasan untuk mengantisipasi serangan yang datang tiba-tiba.
“Dalam sepekan terakhir, asmanya sering kambuh. Malam sebelum meninggal, dia mengeluh sesak napas dan nyeri dada,” ujar Marhamah.
Pesan Terakhir Lisna tentang Putri Kecilnya
Di tengah duka, Marhamah masih mengingat pesan Lisna sebelum meninggal dunia. Putrinya sempat menitipkan anak perempuan yang kini berusia lima tahun kepada dirinya.
Kini, Marhamah harus menghadapi kehilangan putri sekaligus membantu merawat cucunya. Kenangan tentang pesan tersebut pun terasa semakin berat setelah Lisna pergi untuk selamanya.
Selain mengenang Lisna, keluarga berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan warga. Mereka terutama menyoroti keselamatan masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Keluarga juga berharap kualitas udara di Banjarmasin segera membaik. Dengan begitu, warga dapat beraktivitas lebih aman di tengah ancaman kabut asap.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net

Tinggalkan Balasan