Rektor ULM Iwan Aflanie Ungkap Pelajaran Nabi Yusuf untuk Mengantisipasi Krisis dan Mengelola Risiko
fokus6.net, BANJARMASIN – Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Iwan Aflanie, menyoroti pentingnya menyiapkan cadangan saat kondisi ekonomi sedang baik. Menurutnya, kisah Nabi Yusuf AS memberikan pelajaran tentang pengelolaan sumber daya dan antisipasi krisis.
Iwan menyampaikan pandangan tersebut saat menjadi pembahas buku Strategi Fiskal Nabi Yusuf: Pelajaran Abadi untuk Negeri karya Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal. Diskusi itu berlangsung di Auditorium Mastur Jahri, UIN Antasari Banjarmasin, Jumat (23/10/2026).
Dalam pembahasannya, Iwan mengangkat kisah tujuh tahun masa subur yang kemudian tujuh tahun masa sulit. Kisah tersebut menunjukkan pentingnya memanfaatkan masa kelimpahan untuk mempersiapkan kebutuhan pada masa mendatang.
“Hari ini kelihatan maju, besok kita boleh jadi mengalami krisis. Maka hari ini manajemen risiko di kala krisis itu yang harus kita persiapkan,” ujar Iwan.
Iwan Aflanie Kaitkan Kisah Nabi Yusuf dengan Filosofi Kindai
Selain kisah Nabi Yusuf, Iwan menyinggung kearifan lokal masyarakat Banjar melalui filosofi kindai. Tradisi ini mengajarkan masyarakat menyimpan hasil panen sebagai persediaan ketika menghadapi masa sulit.
Kindai merupakan tempat penyimpanan padi atau hasil panen. Dengan menyimpan sebagian hasil saat persediaan melimpah, masyarakat memiliki cadangan untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.
“Bagi orang Banjar sudah punya, kalau hari ini kita berlebihan beras dan lain-lain ya kita simpan. Jangan langsung semuanya habis,” kata Iwan.
Menurutnya, prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam kehidupan rumah tangga. Sebaliknya, kebiasaan menyisihkan sebagian sumber daya juga penting dalam pengelolaan organisasi dan pemerintahan.
Manajemen Risiko Perlu Masuk dalam Kebijakan Pemerintah
Iwan menilai pelajaran dari kisah Nabi Yusuf relevan untuk perencanaan kebijakan publik. Pemerintah perlu memperhitungkan berbagai risiko agar mampu menghadapi perubahan kondisi ekonomi maupun keadaan darurat.
Karena itu, perencanaan tidak cukup hanya berfokus pada kebutuhan saat ini. Pemerintah juga perlu menyiapkan cadangan dan langkah antisipasi untuk menghadapi situasi-situasi sulit.
Prinsip serupa dapat diterapkan dalam pengelolaan perguruan tinggi. Dengan perencanaan yang matang, institusi dapat mengatur sumber daya secara lebih terukur dan menjaga keberlanjutan program.
Bagi Iwan, inti pelajaran dari kisah Nabi Yusuf terletak pada kesiapan menghadapi perubahan. Masa kelimpahan perlu dimanfaatkan dengan bijak agar masyarakat dan pemerintah memiliki bekal ketika krisis datang.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net

Tinggalkan Balasan