fokus6.net, KABUPATEN BANJAR – Ribuan ekor ikan nila di keramba jala apung milik warga Desa Arfat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, mati mendadak pada Selasa (7/7/2026). Peristiwa tersebut kembali menghantam para pembudidaya yang kehilangan ikan menjelang masa panen dan harus menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Para pembudidaya menduga kematian ikan akibat menurunnya debit air sungai dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu dugaannya menyebabkan kadar oksigen terlarut ikut berkurang sehingga ikan tidak mampu bertahan hidup.

Nasrudin, salah seorang pembudidaya, mengaku lebih dari satu ton ikan nila miliknya mati hanya dalam waktu singkat. Padahal, seluruh ikan tersebut sudah mendekati masa panen sehingga siap mereka pasarkan.

Akibat kejadian itu, ia tidak hanya kehilangan ikan yang mati, tetapi juga terpaksa menjual ikan yang masih hidup dengan harga lebih rendah agar kerugian tidak semakin besar.

“Kejadian seperti ini hampir terjadi setiap tahun. Kami berharap ada solusi dari pemerintah supaya pembudidaya tidak terus mengalami kerugian,” ujar Nasrudin.

Selain kehilangan hasil panen, Nasrudin mengaku harus menanggung kerugian sekitar Rp20 juta. Kerugian tersebut turut memengaruhi modal usaha untuk memulai siklus budidaya berikutnya.

Menurutnya, jika kondisi tersebut terus berulang tanpa penanganan, banyak pembudidaya khawatir kesulitan melanjutkan usaha. Sebab modal terus terkuras akibat kematian ikan secara massal.

Para pembudidaya pun berharap pemerintah segera melakukan kajian terhadap penyebab kematian ikan sekaligus menyiapkan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Penulis/Reporter: Sairi

Baca juga  Harga Ayam Potong di Martapura Naik, Permintaan Dapur MBG Ikut Pengaruhi Pasokan