fokus6.net, BANJARMASIN — Pasutri di Banjarmasin sukses mengolah daun nipah menjadi kerajinan unik. Produk mereka berupa pernak-pernik tradisi badudus khas Banjar.

Helinda bersama suaminya, Ramlani, memproduksi kerajinan di rumah mereka di Jalan 9 November. Mereka menganyam daun nipah yang sudah disortir menjadi berbagai bentuk.

Badudus merupakan tradisi mandi pengantin sebelum resepsi adat Banjar. Pernak-pernik ini menjadi pelengkap penting dalam prosesi tersebut.

Dalam satu paket, terdapat beragam motif anyaman. Di antaranya galang-galang yang menyerupai rantai hingga motif halilipan atau lipan.

Setiap motif memiliki makna tersendiri. Nilai adat Banjar menjadi bagian penting dalam setiap karya yang dihasilkan.

“Setiap motif punya arti, jadi tidak sekadar hiasan,” ujar Helinda.

Untuk menyelesaikan satu paket, mereka membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Ketelitian dan kesabaran menjadi kunci utama dalam proses pembuatan.

Ramlani mengatakan keterampilan ini mereka peroleh secara turun-temurun. Mereka terus menjaga tradisi agar tetap hidup.

“Kami belajar dari keluarga dan terus melanjutkan usaha ini,” kata Ramlani.

Usaha ini telah mereka jalankan selama belasan tahun. Dari kerajinan daun nipah kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Lebih jauh, dari usaha tersebut, pasutri di Banjarmasin ini bisa meraup keuntungan lebih dari Rp2 juta per bulan. Satu paket pernak-pernik badudus berkisar Rp55 ribu.

Sementara untuk permintaan datang tidak hanya dari Banjarmasin. Produk mereka juga banyak peminatnya bahkan hingga luar Kalimantan.

Penulis/Reporter: Berland

Baca juga  PUPR Perkim Balangan Luncurkan 10 Inovasi untuk Percepat Pelayanan Publik