Standard Chartered Proyeksikan PDB Indonesia Tumbuh 5,2 Persen pada 2026
fokus6.net, JAKARTA – Standard Chartered Indonesia memproyeksikan perekonomian Indonesia akan memasuki fase pertumbuhan siklikal pada 2026. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 5,2 persen, meningkat dibandingkan proyeksi pertumbuhan 5 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut tertopang oleh konsumsi domestik yang tetap stabil. Kemudian belanja pemerintah yang relatif tinggi, serta momentum investasi yang terjaga. Terutama pada sektor-sektor yang sejalan dengan program prioritas pemerintah.
Dalam laporan riset global terbaru Standard Chartered Global Research Briefing (GRB) Semester I 2026, konsumsi rumah tangga Indonesia akan tumbuh pada kisaran 4,8 hingga 5 persen.
Pertumbuhan ini ditopang oleh inflasi yang terkendali, peningkatan belanja sosial pemerintah, serta membaiknya kondisi pasar tenaga kerja.
Senior Economist Standard Chartered Indonesia, Aldian Taloputra, menyatakan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia akan tetap bersikap hati-hati sepanjang 2026. Tentunya, dengan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
“Meskipun ruang penurunan suku bunga semakin terbatas, sekitar 25 basis poin tahun ini. Kebijakan likuiditas dan kebijakan makroprudensial akan tetap mendorong pertumbuhan kredit di sektor prioritas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (28/1/2026).
Aldian menambahkan, investasi tetap menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui pembangunan kapasitas industri hilirisasi, belanja modal pemerintah, badan usaha, serta pembangunan infrastruktur.
Namun demikian, peran sektor swasta dan arus investasi asing langsung akan semakin krusial seiring dengan semakin terbatasnya ruang fiskal pemerintah.
Pertumbuhan Ekonomi Global Relatif Pada Kisaran 3,4 Persen pada 2026
Sementara itu, Chief Economist ASEAN and South Asia Standard Chartered, Edward Lee, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan relatif stabil di kisaran 3,4 persen pada 2026.
Kondisi tersebut terbantu oleh kebijakan moneter yang masih akomodatif, sikap fiskal yang suportif, serta meningkatnya investasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di kawasan ASEAN, Edward memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan sedikit melambat. Terutama di negara-negara yang lebih terekspos terhadap dinamika eksternal seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Perlambatan ini seiring dengan normalisasi lonjakan ekspor ke Amerika Serikat dalam beberapa bulan mendatang.
“Sebaliknya, negara-negara dengan basis permintaan domestik yang kuat, seperti Indonesia akan tetap relatif lebih tangguh,” jelas Edward.
Ia juga menekankan bahwa restrukturisasi perdagangan global, dan fragmentasi geopolitik yang sedang berlangsung akan terus memengaruhi arah arus modal.
Sementara itu, CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia memasuki 2026 tetap solid.
Hal tersebut tertopang oleh kuatnya permintaan domestik. Juga dukungan kerangka kebijakan makro, meskipun ketidakpastian global dan geopolitik masih berlanjut.
“Di tengah kondisi permodalan global yang semakin selektif, dunia usaha membutuhkan kejelasan arah. Juga konektivitas lintas pasar, serta mitra jangka panjang,” kata Donny.
Menurut Donny, Standard Chartered berada pada posisi strategis untuk membantu korporasi di Indonesia.
“Standard Chartered siap mendukung korporasi Indonesia untuk mengakses modal, mengelola risiko, serta berpartisipasi dalam rantai nilai regional maupun global,” tutupnya.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan