fokus6.net, BANJARMASIN – Sineas Kalimantan Selatan menghadirkan lima cerita berbeda melalui program Banua Film Fund 2026. Mulai dari pemuda yang kehilangan arah di tengah laut, perburuan 41 wadai Banjar, hingga lulusan sarjana yang kesulitan mencari pekerjaan.

Kelima film tersebut menjalani pemutaran perdana di Bioskop KCM Belda, Sabtu (31/10/2026). Melalui karya-karya ini, para sineas mengangkat budaya lokal sekaligus persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Banua Film Fund merupakan program tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan bersama Forum Sineas Banua. Program ini memberi kesempatan kepada sineas lokal untuk mengembangkan film pendek dengan standar produksi layar bioskop.

Tahun ini, lima rumah produksi menghadirkan genre dan tema yang beragam. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang menampilkan empat film horor, kali ini penonton mendapat sajian petualangan, drama komedi, romansa, hingga kritik sosial.

Petualangan di Laut hingga Misi Mengumpulkan 41 Wadai Banjar

Kaya Film membuka kisah melalui Rasi: Arah Pulang. Film ini mengikuti perjalanan tiga pemuda pesisir, Rasi, Baco, dan Amin, yang kehilangan arah setelah badai menghantam perahu mereka.

Tanpa kompas, ketiganya harus membaca rasi bintang untuk menentukan arah perjalanan. Selain menyajikan petualangan, film ini memperkenalkan tradisi bahari masyarakat Desa Rampa, Kotabaru.

Salah satu bagian cerita mengangkat upacara adat Massalama Ritasi’e. Tradisi tersebut menjadi bagian dari gambaran kehidupan masyarakat pesisir Banua.

Sementara itu, Pagi Collective mengajak penonton mengikuti Misi 41. Amat dan Ijul harus berburu 41 jenis wadai tradisional Banjar menjelang perayaan Baayun Maulid.

Namun, misi kuliner itu ternyata menyimpan persoalan lain. Di tengah perburuan, keduanya juga harus menghadapi masalah keluarga yang belum selesai.

Baca juga  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel Percepat Kenaikan Tipologi Museum Lambung Mangkurat

Tamakan Dabu Angkat Persahabatan dan Lingkungan

Layar Tanbu menghadirkan Tamakan Dabu dengan latar persoalan lingkungan. Ceritanya berpusat pada seorang pemuda yang mengalami batuk kronis, tetapi tetap ingin mengikuti lomba kesenian Madihin.

Bersama tiga sahabatnya, ia menempuh perjalanan melewati kawasan bekas pertambangan. Kondisi jalan yang rusak dan debu sepanjang perjalanan menguji tekad serta persahabatan mereka.

Di sisi lain, film ini juga mengangkat perjuangan mempertahankan kesenian tradisional. Madihin menjadi bagian penting dari cerita yang Layar Tanbu suguhkan.

Malamar Gawian dan Jangan Dicium Sajikan Drama Kehidupan Anak Muda

Persoalan mencari pekerjaan menjadi tema utama Malamar Gawian produksi Ngerujaks Studio. Film ini menggambarkan kegelisahan sarjana baru yang belum mendapat pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.

Tekanan dari keluarga dan lingkungan turut memperumit keadaan. Namun, Ngerujaks Studio mengemas persoalan tersebut melalui komedi satir dengan humor khas Banjar.

Berbeda dari cerita itu, Miniatur Production menawarkan kisah percintaan lewat Jangan Dicium. Film komedi romantis ini mengikuti Jali yang menghadapi persoalan dalam hubungan asmaranya.

Cerita tersebut memadukan cinta, bau, dan restu. Selain itu, tradisi batimung atau perawatan tubuh khas Banjar ikut menjadi bagian dari konflik tokoh utama.

Disdikbud Kalsel Dorong Film Banua Menjangkau Pasar Lebih Luas

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, Edy Suwarto, menyebut Banua Film Fund sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap sineas daerah. Menurutnya, film dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Banua.

Ia berharap karya sineas Kalsel mampu menjangkau penonton lebih luas. Tidak hanya di daerah, tetapi juga di tingkat nasional hingga internasional.

“Kami berharap ke depan ini bukan cuma bersifat lokal dan regional, tapi juga nasional dan internasional,” ujarnya.

Baca juga  Nama Peserta SPSE INAPROC Tak Dibuka, Ketua Komisi I DPRD Banjarmasin Sebut Langgar Undang-Undang

Edy menambahkan, pihaknya berencana membangun sistem yang menghubungkan berbagai yayasan dan lembaga seni budaya. Melalui langkah tersebut, pemerintah ingin membuka lebih banyak kesempatan bagi karya lokal untuk berkembang.

Hadirnya lima film dalam Banua Film Fund 2026, sineas Kalsel menunjukkan beragam sisi kehidupan masyarakat melalui layar lebar. Tradisi, persoalan lingkungan, hingga keresahan anak muda menjadi cerita yang mereka bawa kepada penonton.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net