Kasus Dua Siswa MTs Al Furqan Tenggelam di UMB Naik Penyidikan, Polisi Periksa 12 Saksi
fokus6.net, BARITO KUALA – Kasus tenggelamnya dua siswa MTs Muhammadiyah Al Furqan Banjarmasin di kawasan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) kini masuk tahap penyidikan.
Kapolsek Alalak Ipda Bistok Berkat Panjaitan mengatakan, polisi telah memeriksa 12 saksi dalam perkara tersebut.
“Berkaitan dengan perkara Al-Furqan sendiri sudah sekitar satu bulan. Dari tanggal 30 September 2026, sudah berjalan proses penyelidikan sampai saat ini prosesnya penyidikan sudah naik statusnya,” ujar Bistok.
Selanjutnya, penyidik masih akan memeriksa sejumlah saksi tambahan. Polisi juga mengumpulkan dokumen pendukung untuk melengkapi alat bukti.
“Sudah beberapa proses rangkaian pemeriksaan kami lakukan. Ke depan sekitar beberapa saksi lagi untuk memenuhi kelengkapan alat bukti yang lain dan dokumen-dokumen pendukung,” jelasnya.
Namun, polisi belum memeriksa seluruh saksi yang sudah dijadwalkan. Beberapa di antaranya masih terkendala waktu.
Bistok menyebut sebagian saksi merupakan pelajar. Karena itu, penyidik menyesuaikan jadwal pemeriksaan agar tidak mengganggu kegiatan sekolah.
“Kalau untuk pemeriksaan sampai saat ini baru 12. Ada perencanaan beberapa saksi lagi, kita menunggu waktu dulu karena dari beberapa saksi yang akan kita periksa sudah kita jadwalkan,” katanya.
“Namun, mungkin karena yang bersangkutan ada terkendala waktu, yang mana hampir sebagian anak-anak yang kita periksa ini di masa akhir-akhir semester. Takut mengganggu pelajarannya, jadi kita reschedule beberapa hari supaya pemeriksaan tetap berjalan dengan lancar,” sambungnya.
Dua Siswa Tenggelam di Kolam
Peristiwa tersebut terjadi saat kegiatan Kemah Akbar MTs Muhammadiyah Al Furqan pada Minggu (6/9/2026).
Dua siswa, M Farhan Alkatiri (13) dan M Rizqi Adly Fakhrian (13), kemudian ditemukan tenggelam di kolam kawasan UMB.
Sebelumnya, para peserta mengikuti berbagai permainan dan aktivitas fisik. Kegiatan itu membuat pakaian serta tubuh mereka penuh lumpur.
Setelah itu, peserta mendapat kesempatan membersihkan diri di sekitar kolam. Seorang peserta yang menjadi saksi mengatakan siswa tidak mendapat kewajiban untuk masuk ke air.
“Terus kami diminta membersihkan diri, nah disuruh ke danau tapi jangan ke tengah,” kata saksi.
“Memang tidak wajib bercebur, yang mau-mau saja,” lanjutnya.
Saat peserta berada di sekitar kolam, kondisi lokasi cukup ramai. Tanaman teratai juga tumbuh di bagian pinggir kolam.
“Di pinggir kolam itu ada teratai. Lagi ramai-ramainya kan, jadi tidak sadar lagi,” ujarnya.
Saksi kemudian mencari Farhan dan Adly setelah kegiatan membersihkan diri selesai. Ia sempat menghubungi Adly melalui telepon, tetapi tidak mendapat jawaban.
Kemudian, peserta memanggil keduanya menggunakan mikrofon. Namun, Farhan dan Adly tetap tidak memberikan respons.
Pencarian lalu berlangsung di sekitar area perkemahan. Sejumlah peserta bahkan menyisir permukaan kolam menggunakan kayu.
Guru Temukan Kedua Korban
Situasi berubah ketika seorang guru berlari menuju kolam. Guru tersebut kemudian masuk ke air dan menyelam ke bagian dasar.
“Tiba-tiba ada guru SMP yang lari-lari. Jadi kami tidak sadar juga kenapa. Guru SMP itu tiba-tiba terjun, kemudian dia nyelam ke dasar, ternyata dia menemukan Adly,” ungkap saksi.
Beberapa menit kemudian, Farhan juga ditemukan. Saksi menyebut Farhan berada di bawah tanaman teratai yang tidak jauh dari lokasi Adly.
Kedua siswa kemudian dievakuasi dari kolam. Ayah Adly sempat melakukan CPR, tetapi tidak mendapat respons.
Keluarga Farhan kemudian mempertanyakan penanganan setelah anak mereka tidak ditemukan. Atikah, ibu Farhan, mengaku justru mendapat informasi dari siswa lain.
“Saya hubungi mamanya temannya, katanya lagi pencarian. Saya pikir waktu itu lagi bermain,” kata Atikah, Selasa (8/9/2026).
Setelah itu, Atikah kembali mencari informasi melalui teman Farhan dan orang tua siswa lainnya. Ia kemudian menerima telepon dari orang tua siswa lain yang meminta segera datang ke lokasi.
“Menelepon sambil menangis-nangis dan minta saya cepat-cepat datang karena anak saya. Saat itu saya posisinya di Jalan Gambut. Jadi saya langsung ke grup WhatsApp sekolah dan wali kelasnya, minta tolong anak saya dan saya tanya ke mana anak saya,” ungkapnya.
Namun, pertanyaan tersebut tidak langsung mendapat jawaban. Atikah kemudian sempat mendatangi rumah sakit yang salah sebelum mengetahui lokasi anaknya.
Keluarga Laporkan Peristiwa ke Polisi
Atikah juga mempertanyakan keputusan membiarkan peserta mendekati kolam untuk membersihkan lumpur.
Menurutnya, kondisi kolam licin dan berlumpur. Karena itu, ia menilai peserta seharusnya menggunakan fasilitas lain yang lebih aman.
“Kolam itu licin dan berlumpur, semakin kita injak tanah di dalam kolam itu semakin masuk ke dalam. Jadi berbahaya, masa guru membiarkan anak-anak cuci kaki di situ,” sebut Atikah.
Selain itu, keluarga mengaku mendapat informasi bahwa Farhan sempat memegang tangan temannya sebelum akhirnya tenggelam. Informasi tersebut kemudian mereka serahkan kepada polisi untuk proses penyelidikan.
Kini, keluarga menyerahkan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum. Atikah juga membenarkan pihak keluarga sudah membuat laporan.
“Sudah dilaporkan (ke polisi),” tegasnya.
Sementara itu, polisi masih melanjutkan pemeriksaan saksi dan pengumpulan dokumen. Penyidik juga akan menjadwalkan pemeriksaan tambahan untuk melengkapi proses penyidikan kasus Al Furqan.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net

Tinggalkan Balasan