fokus6.net, KABUPATEN BANJAR – Pemadaman listrik yang berlangsung hampir enam jam di Kalimantan Selatan memicu kerugian bagi pelaku usaha budidaya ikan bioflok. Di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, sekitar 200 ekor ikan nila mati setelah aerator berhenti beroperasi.

Akibatnya, kadar oksigen di dalam kolam turun drastis. Selain itu, ikan tidak mampu bertahan karena suplai oksigen terhenti selama pemadaman berlangsung.

Pembudidaya ikan bioflok, Randy, mengatakan dirinya baru mengetahui banyak ikan mati setelah aliran listrik kembali menyala. Saat itu, aerator yang menjadi sumber pasokan oksigen baru kembali berfungsi.

“Sekitar 200 ekor ikan nila mati karena aerator tidak menyala selama listrik padam. Di kolam bioflok, aerator memang harus hidup terus. Kalau berhenti lama, ikan bisa kekurangan oksigen dan mati,” ujar Randy.

Menurut Randy, sistem bioflok sangat bergantung pada pasokan listrik. Karena itu, aerator harus bekerja selama 24 jam agar kualitas air tetap terjaga dan ikan memperoleh oksigen yang cukup.

Selain itu, ia menilai pelaku usaha bioflok sulit mengikuti imbauan penghematan listrik apabila harus mematikan peralatan utama. Sebab, penghentian aerator selama beberapa jam saja sudah berisiko memicu kematian ikan.

Oleh karena itu, Randy berharap pasokan listrik kembali stabil. Dengan demikian, pembudidaya ikan tidak lagi menanggung kerugian akibat pemadaman listrik yang berlangsung lama.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak sektor usaha bergantung pada listrik yang andal. Karena itu, kestabilan pasokan listrik menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha, termasuk pembudidaya ikan bioflok.

Penulis/Reporter: Sairi

Baca juga  Kecelakaan Dua Pikap di Binuang Tapin Berakhir Damai