fokus6.net, KABUPATEN BANJAR – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar memastikan kematian massal ikan di keramba jala apung di Kecamatan Karang Intan dan Astambul bukan disebabkan pencemaran air.

Fenomena tersebut terjadi akibat turunnya debit Sungai Martapura selama musim kemarau yang memicu berkurangnya kadar oksigen di perairan.

DKPP mencatat sekitar 50 ton ikan nila dan bawal milik pembudidaya mati dalam beberapa hari terakhir. Akibat kejadian itu, total kerugian yang para pembudidaya taksirannya mencapai Rp1,3 miliar.

Kepala DKPP Kabupaten Banjar, Sipliansyah, menjelaskan penurunan debit air membuat kandungan oksigen terlarut di sungai ikut berkurang. Selain itu, sisa pakan dan kotoran ikan yang mengendap berubah menjadi senyawa beracun sehingga memperparah kondisi perairan.

“Fenomena ini bukan karena pencemaran. Penyebab utamanya adalah debit air yang menurun saat musim kemarau sehingga kadar oksigen rendah dan endapan organik menghasilkan racun bagi ikan,” ujar Sipliansyah.

Sebelumnya, DKPP telah mengimbau para pembudidaya untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Namun, kondisi cuaca yang berlangsung cukup lama tetap memicu kematian ikan dalam jumlah besar.

Karena itu, DKPP kembali mengingatkan pembudidaya agar menerapkan langkah-langkah pencegahan, seperti mengurangi kepadatan tebar ikan, mengatur pemberian pakan, serta memantau kualitas air secara berkala. Dengan demikian, risiko kerugian serupa minim terjadi pada musim kemarau berikutnya.

Penulis/Reporter: Sairi

Baca juga  Kebakaran di Pingaran Ilir Astambul Hanguskan Lima Rumah, Api Cepat Membesar Diterpa Angin