Cabai Rawit Langka di Pasar Martapura
fokus6.net, KABUPATEN BANJAR – Stok cabai rawit di Pasar Tradisional Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mengalami kelangkaan pada pekan pertama Ramadhan. Sejumlah lapak pedagang bahkan terlihat kosong tanpa pasokan cabai rawit yang biasanya menjadi buruan utama masyarakat.
Kelangkaan ini diakui para pedagang sebagai dampak dari melonjaknya harga di tingkat distributor. Saat ini, distributor mematok harga cabai rawit berkisar Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Martapura, Rismawati, mengaku sudah tiga hari terakhir tidak menjual cabai rawit karena tidak sanggup membeli stok dengan harga setinggi itu.
“Sudah tiga hari ini saya tidak jual cabai rawit. Harga dari distributor sudah Rp110 ribu sampai Rp120 ribu per kilo. Kalau saya ambil, nanti jualnya makin mahal lagi dan pembeli pasti keberatan,” ujar Rismawati kepada fokus6.net, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, cabai rawit merupakan jenis cabai yang paling banyak dicari pembeli, terutama selama bulan Ramadhan. Namun karena harga terlalu tinggi, ia memilih tidak mengambil stok.
Sebagai alternatif, Rismawati kini hanya menjual cabai tiung dengan harga Rp90 ribu per kilogram. Meski demikian, permintaan cabai rawit tetap lebih tinggi dibanding jenis lainnya.
Pedagang lainnya, Kartini, juga membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut kenaikan harga dari distributor membuat pedagang kesulitan menjaga kestabilan harga di tingkat pasar.
“Harganya naik terus dari sananya. Kalau kami ikut ambil, modalnya sudah tinggi. Jadi memang banyak yang tidak berani stok,” kata Kartini.
Lonjakan harga ini turut berdampak pada konsumen. Saufi, salah seorang pembeli, mengaku terbebani dengan kenaikan harga cabai yang terjadi di awal Ramadhan, saat kebutuhan rumah tangga meningkat.
“Biasanya beli cabai rawit tidak semahal ini. Sekarang susah dapatnya, kalau ada pun mahal. Padahal kebutuhan selama puasa justru lebih banyak,” ujarnya.
Para pedagang memperkirakan harga cabai rawit masih akan bertahan tinggi bahkan berpotensi terus meroket hingga setelah Idul Fitri, terlebih harga dari distributor tidak kunjung normal.
Penulis/Reporter: Sairi


Tinggalkan Balasan