Enam Petuah Mbah Moen yang Tetap Relevan, dari Soal Rezeki hingga Menjaga Hati
fokus6.net, JAKARTA – Tujuh tahun setelah wafatnya, nasihat Allahuyarham KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen tetap hidup di tengah masyarakat. Petuah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, itu terus menjadi pegangan banyak orang dalam menjalani kehidupan.
Mbah Moen wafat di Makkah saat menunaikan ibadah haji pada 6 Agustus 2019. Namun, hingga kini, banyak orang masih membagikan pesan-pesannya karena mereka menilai tetap relevan.
Nasihat Mbah Moen tidak hanya membahas ibadah. Sebaliknya, beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga hati, memperbaiki diri, serta mencari ridha Allah dalam setiap langkah.
Selain itu, petuahnya juga menyentuh persoalan yang banyak masyarakat hadapi saat ini. Mulai dari rasa iri, kecemasan tentang masa depan, tekanan ekonomi, hingga kebiasaan menghakimi orang lain.
Jangan Iri dengan Kehidupan Orang Lain
Salah satu pesan Mbah Moen yang paling sering dikutip membahas rasa iri terhadap keberuntungan orang lain.
“Tidak perlu iri dengan keberuntungan orang lain, karena kamu tidak tahu apa yang sudah diambil Tuhan dari dirinya. Dan tidak perlu sedih saat kamu diuji, karena kamu tidak tahu hadiah apa yang sedang disiapkan Tuhan untukmu.”
Petuah dalam buku Pesan Cinta Mbah Moen itu mengajarkan setiap orang memiliki ujian dan karunia yang berbeda. Karena itu, seseorang tidak perlu membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Bahagia Tidak Bergantung pada Uang
Mbah Moen juga mengingatkan bahwa kebahagiaan lahir dari hati yang tenang, bukan dari banyaknya harta.
“Hidup itu bisa dikatakan tenteram apabila ketika sedang memegang uang kamu tidak merasa gembira secara berlebihan, dan ketika sedang tidak punya uang kamu tidak merasa susah atau terpuruk.”
Pesan yang dikutip dari Pusat Data dan Informasi Nahdlatul Ulama itu menekankan pentingnya sikap qanaah dalam menjalani kehidupan.
Fokus pada Amal, Bukan Rezeki
Selain itu, Mbah Moen meminta umat Islam tidak terlalu mencemaskan urusan rezeki.
“Jangan terlalu pusing memikirkan rezeki, karena rezeki itu sudah diatur dan dijamin, yang belum diatur itu adalah amalmu, maka fokuslah memperbaiki amalanmu.”
Beliau menyampaikan nasihat tersebut saat mengkaji kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Al-Anwar.
Jaga Lisan dan Hindari Menggunjing
Di tengah maraknya media sosial, pesan Mbah Moen tentang menjaga lisan terasa semakin penting.
“Jika kamu ingin menjalani hidup dengan tenang dan bahagia, jangan suka menggosipkan orang lain dan jangan suka mencari-cari kesalahan mereka.”
Melalui buku Mutiara Sabda Mbah Moen, beliau mengingatkan bahwa ketenangan sering berawal dari kemampuan menahan ucapan.
Kejujuran Lebih Penting daripada Kepintaran
Mbah Moen juga mengingatkan bahwa kecerdasan bukan satu-satunya ukuran seseorang.
“Tidak semua orang pintar itu benar, dan tidak semua orang benar itu pintar. Yang paling penting adalah menjadi orang yang benar, meskipun mungkin tidak terlihat pintar di mata manusia.”
Pesan tersebut mengajak setiap orang mengutamakan kejujuran dan integritas dalam kehidupan.
Terus Belajar dan Mengamalkan Ilmu
Menurut Mbah Moen, seseorang tidak menjadi hebat karena jabatan atau pangkat.
“Orang yang hebat itu bukan orang yang memiliki jabatan atau pangkat yang tinggi, melainkan orang yang mau terus belajar dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya.”
Nasihat yang dinukil dari Al-Ulama Al-Mujaddidun itu menegaskan bahwa ilmu akan bernilai ketika seseorang mengamalkannya.
Menjelang akhir hayatnya, Mbah Moen juga berdoa agar Allah mewafatkannya di Kota Makkah. Allah mengabulkan doa tersebut saat beliau menunaikan ibadah haji pada 6 Agustus 2019.
Kini, petuah Mbah Moen tetap menginspirasi banyak orang. Selain mengajarkan ketenangan, nasihat itu juga mengingatkan pentingnya menjaga hati, memperbanyak amal, serta terus belajar sepanjang hayat.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net

Tinggalkan Balasan