Mengenal Ragam Pakaian Adat Kalsel dan Maknanya bagi Budaya Banua
fokus6.net, BANJARMASIN — Pakaian adat Kalsel mencerminkan kekayaan budaya Banua yang kaya makna dan sejarah panjang. Setiap busana bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol identitas dan nilai budaya masyarakat Kalimantan Selatan.
Berbeda dengan provinsi lain di Kalimantan yang mayoritas bersuku Dayak, Kalimantan Selatan didominasi suku Banjar. Dominasi inilah yang membentuk corak budaya daerah, termasuk pakaian adat Kalsel yang berkembang hingga kini.
Selain budaya Banjar, busana adat Banua juga mendapat sentuhan Hindu, Jawa, Bugis, Tionghoa, hingga Timur Tengah. Perpaduan itu menjadikan pakaian adat Kalsel tampil unik dan berkarakter kuat.
Bagajah Gamuling Baular Lulut
Bagajah Gamuling Baular Lulut merupakan busana pengantin Banjar tertua yang muncul pada masa peralihan Hindu dan Islam, sekitar abad ke-15. Awalnya busana ini hanya kalangan raja dan bangsawan yang memakainya.
Ciri utamanya adalah mahkota berbentuk ular meliuk mengelilingi kepala. Pada masa lalu mahkota itu terbuat dari emas bertahtakan intan, kini terbuat dari logam kuningan.

Pengantin wanita mengenakan gaun berhias payet, ikat pinggang, dan mahkota rangkaian melati, mawar, dan clematis. Sementara itu pengantin pria tampil bertelanjang dada dengan celana sebatas betis dan kalung samban.
Baamur Galung Pancar Matahari
Busana adat Banjar ini terkenal dengan tampilan cerah dan gemerlap layaknya pancaran sinar matahari. Pengaruh Hindu tampak pada mahkota serta kain bermotif naga dan kelabang atau halilipan.

Pengantin pria mengenakan kemeja lengan panjang berhias renda, jaket terbuka, celana panjang, dan kain halilipan di pinggang. Sedangkan pengantin wanita mengenakan baju poko berlengan pendek berhias manik-manik dengan kida segi lima di bagian dada.
Pakaian Adat Tanah Bumbu
Busana adat ini mencuat secara nasional setelah Presiden Joko Widodo mengenakannya pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2022. Busana ini berasal dari masyarakat Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, yang mayoritas bersuku Bugis.

Ciri utamanya adalah kain tenun Pagatan sebagai sarung dan laung sebagai penutup kepala. Setiap bagian busana menyimpan makna filosofis — sarung melambangkan ketekunan, laung melambangkan kewibawaan, dan ikat pinggang mencerminkan kesederhanaan.
Babaju Kun Galung Pacinan
Busana ini memadukan budaya Timur Tengah dan Tionghoa sejak abad ke-19. Pengantin pria mengenakan gamis dan jubah bergaya saudagar Gujarat dengan kopiah alpe berlilitan sorban.

Pengantin wanita mengenakan kebaya lengan panjang bergaya cheongsam berhias payet benang emas bermotif bunga teratai. Tusuk konde berbentuk huruf Lam aksara Arab dan burung Hong menjadi simbol akulturasi Islam dan Tionghoa dalam busana ini.
Kubaya Panjang
Kubaya Panjang berkembang dari beberapa busana Banjar sebelumnya dengan nuansa Islami khas Melayu. Pengantin pria mengenakan laung tajak siak, jas tutup cekak musang, dan sarung, sementara pengantin wanita mengenakan kebaya panjang bermotif serasi.

Seiring waktu busana ini tidak lagi terbatas pada prosesi pernikahan. Kini Kubaya Panjang juga masyarakat kenakan dalam berbagai acara budaya dan kegiatan penting lainnya.
Kain Sasirangan
Kain sasirangan merupakan kain tradisional khas Banua yang menyimpan nilai sejarah dan spiritual kuat. Dalam Hikayat Banjar, kain ini sudah ada sejak abad ke-7 dengan nama kain Langgundi.

Nama sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti mengikat dan menjahit dengan tangan sebelum proses pewarnaan. Teknik itu menghasilkan beragam motif khas seperti sarigading, ombak sinapur karang, hiris pudak, bayam raja, kambang kacang, dan naga balimbur.
Dahulu kain sasirangan masyarakat gunakan sebagai media penyembuhan dan perlindungan dari gangguan roh jahat. Kini kain ini berkembang menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.
Kapan Pakaian Adat Kalsel Dikenakan
Masyarakat Banua mengenakan pakaian adat Kalsel dalam upacara adat, perayaan keagamaan, pernikahan, dan festival budaya. Dalam pernikahan, busana adat menjadi elemen utama sebagai wujud kebanggaan terhadap tradisi Banjar.
Busana tradisional juga tampil dalam ajang seperti Festival Budaya Banjar dan Festival Loksado. Kini pakaian adat Kalsel bukan sekadar busana — melainkan cerminan kekayaan budaya Banua yang terus masyarakat jaga hingga kini.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan