fokus6.net, JAKARTA – Belanda melewati musim panas terpanas dalam catatan sejarah pengukuran suhu. Data Institut Meteorologi Kerajaan Belanda atau KNMI mencatat suhu rata-rata mencapai 19,3 derajat Celsius.

Angka tersebut tercatat di stasiun pemantau KNMI di De Bilt selama Juni hingga Agustus 2026. Dengan demikian, rekor 18,9 derajat Celsius pada musim panas 2018 pun terlampaui.

Media nasional Belanda, NOS, melaporkan catatan tersebut pada Kamis (27/8/2026). Selain suhu rata-rata yang tinggi, warga juga menghadapi gelombang panas berulang.

Kemudian, kondisi kering turut meningkatkan tekanan akibat cuaca ekstrem. Suhu malam juga tetap tinggi sehingga warga kesulitan mendapatkan udara sejuk saat beristirahat.

Bahkan, KNMI sempat mengeluarkan peringatan merah untuk panas ekstrem pada Juni 2026. Peringatan tersebut menjadi salah satu langkah tertinggi dalam sistem peringatan cuaca lembaga tersebut.

Pakar iklim KNMI Peter Siegmund mengatakan musim panas kali ini menunjukkan sejumlah catatan ekstrem. Suhu di atas 35 derajat Celsius juga muncul dalam jumlah hari yang lebih banyak.

“Kami mencatat suhu di atas 35 derajat pada hari terbanyak saat ini. Durasi hari-hari tropis juga jauh lebih panjang dari sebelumnya,” ujar Siegmund.

Selain itu, suhu malam ikut menjadi perhatian. Sejumlah wilayah mengalami malam yang tetap panas hingga mencapai 22 derajat Celsius atau lebih.

Di Maastricht, misalnya, suhu malam bertahan di atas 22 derajat selama tiga malam berturut-turut. Kondisi tersebut menjadi kejadian langka dalam catatan cuaca setempat.

Suhu Ekstrem Bisa Makin Sering

Menurut Siegmund, kondisi panas ekstrem seperti tahun ini berpotensi muncul lebih sering. Dalam kondisi iklim saat ini, pola serupa bahkan bisa terjadi setidaknya sekali dalam lima tahun.

Karena itu, ia mengingatkan ancaman cuaca ekstrem akan semakin besar jika emisi gas rumah kaca terus meningkat. Perubahan tersebut juga dapat membuat suhu musim panas ekstrem menjadi lebih umum.

Baca juga  Angin Puting Beliung Terjang Astambul, Tujuh Rumah di Benua Anyar Sungai Tuan Rusak

“Jika emisi tetap tinggi, suhu ekstrem seperti yang terjadi tahun ini akan menjadi suhu musim panas yang umum sekitar tahun 2050,” tegas Siegmund.

Meski begitu, Siegmund menilai masih ada peluang untuk menekan kenaikan suhu. Negara-negara dunia dapat memperkuat kebijakan iklim dan mengurangi emisi secara konsisten.

Berdasarkan kalkulasi KNMI, pilihan kebijakan emisi akan memengaruhi kondisi suhu pada masa depan. Pada 2050, perbedaan antara skenario emisi tinggi dan rendah dapat mencapai sekitar 1 derajat Celsius.

Selanjutnya, selisih tersebut berpotensi membesar hingga 4 derajat Celsius pada akhir abad ini. Karena itu, catatan panas Belanda menjadi pengingat tentang dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net