fokus6.net, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi nasional tumbuh 5,11 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 yang berada di angka 5,03 persen. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan persoalan serius yang menimpa kelompok kelas menengah.

Capaian pertumbuhan ekonomi 2025 sejatinya masih berada di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen. Lebih dari itu, data menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah justru mengalami penyusutan yang cukup signifikan.

Berdasarkan riset Mandiri Institute yang dikutip Minggu (8/2/2026), jumlah kelas menengah di Indonesia turun sekitar 1,1 juta orang pada 2025. Angkanya menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025, atau setara 16,6 persen dari total populasi nasional.

Penurunan tersebut tercatat lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berkurang sekitar 0,4 juta orang. Kondisi ini mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin berat bagi kelompok kelas menengah.

Mandiri Institute menilai, melemahnya kelas menengah tercermin dari kinerja konsumsi yang tertinggal dibandingkan kelompok ekonomi lainnya. Sepanjang 2025, pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah hanya mencapai 4,1 persen secara tahunan.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi nasional yang berada di level 4,6 persen. Bahkan, konsumsi kelompok miskin masih mampu tumbuh 4,7 persen, sementara kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class meningkat 4,8 persen.

Kelompok rentan mencatat pertumbuhan konsumsi sebesar 5 persen, sedangkan kelompok atas justru melesat hingga 6,8 persen. Dengan demikian, kelas menengah menjadi kelompok dengan laju konsumsi terendah sepanjang 2025.

Dari sisi struktur belanja, konsumsi kelas menengah masih ditopang oleh pengeluaran non-makanan yang tumbuh relatif kuat, yakni 6,4 persen secara tahunan. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang hanya tumbuh 3,2 persen.

Baca juga  Incar Wisatawan Internasional Jadi Alasan Peluncuran CoE Banjarmasin Akan Berlangsung di Pantai Sanur Bali

Namun, Mandiri Institute mencatat bahwa pengeluaran tersebut lebih banyak didorong oleh kebutuhan gaya hidup. Sektor transportasi menjadi kontributor terbesar dengan lonjakan pertumbuhan hingga 22,5 persen, seiring meningkatnya mobilitas perjalanan jarak pendek sepanjang tahun lalu.

Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa secara kumulatif perekonomian Indonesia pada 2025 memang menunjukkan tren positif.

“Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen,” kata Amalia di Jakarta, Rabu (5/2/2026).

Ia menjelaskan, nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp23.821,1 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan berada di angka Rp13.580,5 triliun.

Dilihat dari lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif. Pengecualian terjadi pada sektor pertambangan yang mengalami kontraksi. Sektor jasa lainnya tumbuh paling tinggi sebesar 9,93 persen, diikuti jasa perusahaan 9,10 persen, serta transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,78 persen.

Kontribusi terbesar terhadap PDB nasional masih berasal dari industri pengolahan dengan porsi 19,07 persen. Selanjutnya disusul sektor perdagangan 13,17 persen, pertanian 13,10 persen, konstruksi 9,83 persen, dan pertambangan 8,75 persen.

Untuk kuartal IV-2025, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen. Nilai PDB pada periode tersebut tercatat sebesar Rp6.147,2 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.474,5 triliun atas dasar harga konstan.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen merupakan yang tertinggi untuk periode triwulan IV sejak pandemi Covid-19,” ujar Amalia.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net