fokus6.net, BARITO KUALA – Warga Desa Puntik Tengah, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, terus menghadapi kepungan api dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Rabiatul, 42, mengaku mengalami sesak napas selama tiga hari terakhir. Menurutnya, kebakaran sudah berlangsung sekitar tiga bulan, tetapi kondisi semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

“Sudah berbulan-bulan, mungkin tiga bulan. Tiga hari belakangan parah sekali. Kami dikepung api,” ujar Rabiatul saat ditemui, Rabu (14/10/2026).

Di tengah kondisi tersebut, Rabiatul memilih bertahan di rumah. Namun, ia mengungsikan cucunya ke Banjarmasin karena khawatir terhadap dampak asap.

Aktivitas sehari-hari pun terganggu. Selain asap yang terus menyelimuti permukiman, api juga menjalar di lahan kering dan persawahan sekitar desa.

“Sehari-hari terganggu aktivitas. Saya juga sesak napas dalam tiga hari belakangan ini,” katanya.

Menurut Rabiatul, petugas sempat melakukan pemadaman pada malam hari. Meski begitu, api kembali menjadi ancaman saat siang hari.

Karena itu, ia berharap pemerintah segera membantu warga yang mulai mengalami gangguan pernapasan.

“Kalau bisa ada bantuan obat-obatan,” harapnya.

Warga Minta Masker SNI dan Bantuan Oksigen

Keluhan serupa disampaikan Ratna, 63, warga Puntik Tengah. Ia meminta pemerintah menyediakan bantuan kesehatan bagi warga yang terus terpapar kabut asap Mandastana.

Ratna berharap bantuan mencakup masker berstandar nasional Indonesia (SNI), oksigen, vitamin, dan obat-obatan. Menurutnya, kebutuhan tersebut penting bagi warga yang mengalami sesak napas maupun serangan asma.

“Bantuan oksigen, vitamin, masker yang memang SNI. Kalau bisa puskesmas itu siaga 24 jam kalau ada situasi darurat, ada yang sesak napas atau asma,” ujar Ratna.

Warga Puntik Tengah, Barito Kuala, mengaku mengalami gangguan pernapasan di tengah kepungan karhutla.
Warga Puntik Tengah, Barito Kuala, mengaku mengalami gangguan pernapasan di tengah kepungan karhutla. (Foto: Fokus6.net)

Selain bantuan kesehatan, ia meminta puskesmas terdekat membuka layanan selama 24 jam. Dengan begitu, warga bisa segera mencari pertolongan saat kondisi darurat muncul.

Baca juga  Mini Zoo Damkar Jorong Jadi Tempat Edukasi Satwa untuk Anak-anak

Ratna mengatakan jarak menuju fasilitas kesehatan menjadi pertimbangan penting. Pasalnya, warga membutuhkan akses cepat ketika mengalami gangguan pernapasan.

“Jaraknya kira-kira tiga kilometer. Kenapa tidak difungsikan 24 jam saja puskesmas? Jadi kalau ada yang sesak napas, bisa langsung lari ke puskesmas,” katanya.

Warga Bertahan di Tengah Kepungan Api

Meski kondisi semakin mengkhawatirkan, sebagian warga masih bertahan di rumah masing-masing. Mereka khawatir meninggalkan rumah tanpa penjagaan, sementara kebakaran terus mengancam lingkungan sekitar.

Di sisi lain, warga juga menghadapi risiko kesehatan akibat paparan asap yang berkepanjangan. Rabiatul bahkan memilih mengungsikan cucunya ke Banjarmasin demi mengurangi paparan asap.

Karena itu, warga berharap pemerintah mempercepat penanganan karhutla sekaligus memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Mereka juga meminta layanan medis tetap siaga selama api dan kabut asap masih mengancam permukiman.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net