Karhutla di Kalsel Tewaskan 12 Bekantan di HSS, BKSDA Ungkap Ancaman bagi Satwa Liar
fokus6.net, BANJARBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalsel mengancam kehidupan satwa liar. Hingga pekan pertama Oktober 2026, kebakaran di Balimau, Kecamatan Kalumpang, Hulu Sungai Selatan (HSS), menewaskan 12 bekantan.
Selain itu, api juga menewaskan seekor ular piton dan seekor ular king kobra di lokasi yang sama. Sementara itu, kebakaran di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang turut menewaskan seekor ular piton.
Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel tersebut menunjukkan dampak karhutla terhadap berbagai jenis satwa. Tak hanya membunuh satwa secara langsung, api juga merusak habitat tempat mereka hidup dan mencari makan.
Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Kalsel, Jarot Jaka Mulyono, menyebut kemarau, tingginya salinitas air, dan karhutla turut mengancam kehidupan satwa liar. Namun, berdasarkan pemantauan BKSDA, karhutla menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka.
“Ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup satwa liar adalah karhutla,” ujar Jarot, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, dampak kebakaran tidak hanya menimpa satu jenis satwa. Sebaliknya, api dapat membunuh berbagai satwa liar yang menghuni kawasan tersebut.
“Kalau dilihat dampaknya sangat luar biasa. Tidak hanya mematikan bagi satu jenis satwa saja, tetapi juga satwa liar lain yang ada di dalamnya,” katanya.
Karhutla Ancam Habitat Bekantan di Rawa Gambut
Ancaman karhutla semakin serius ketika api melanda kawasan rawa gambut. Sebab, kemarau panjang membuat lahan gambut mengering sehingga petugas membutuhkan upaya lebih besar untuk memadamkan api.
Padahal, kawasan rawa gambut menjadi habitat penting bagi bekantan dan berbagai satwa liar lainnya. Ketika api meluas, satwa menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni kematian akibat kebakaran dan hilangnya tempat hidup.
Bekantan sendiri menjadi salah satu satwa prioritas nasional dalam pengelolaan kawasan konservasi di Kalimantan Selatan. Karena itu, perlindungan habitatnya menjadi perhatian BKSDA.
Berdasarkan data BKSDA Kalsel pada 2025, populasi bekantan di provinsi ini diperkirakan mencapai 3.757 individu. Mereka tersebar di 11 kabupaten/kota, baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
Dari total tersebut, sebanyak 1.281 individu hidup di 16 kawasan konservasi yang dikelola BKSDA Kalsel. Oleh sebab itu, ancaman kebakaran terhadap habitat bekantan perlu mendapat perhatian serius.
BKSDA Siagakan Tim Rescue untuk Selamatkan Bekantan
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian berada di Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Kawasan ini menjadi habitat sekitar 10 bekantan.
Untuk melindungi satwa tersebut, BKSDA Kalsel bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dan BPBD memadamkan kebakaran di lokasi itu. Jarot menyebut petugas menjalankan upaya pemadaman pada 24 September hingga 4 Oktober 2026.
Selain membantu pemadaman, BKSDA juga menyiagakan tim penyelamatan atau rescue. Tim ini memantau pergerakan bekantan dan menggiring satwa menjauhi kawasan yang terancam kebakaran.
BKSDA Kalsel juga menyiapkan kandang transit dan dokter hewan. Fasilitas tersebut mendukung penanganan satwa liar yang terluka atau membutuhkan pertolongan akibat karhutla.
Penulis/Reporter: Fahrulani

Tinggalkan Balasan