Ketegangan Selat Hormuz Memuncak, Kapal Tanker AS Dihadang Kapal Bersenjata Iran
fokus6.net, JAKARTA – Jalur strategis Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah sebuah kapal tanker berbendera Amerika Serikat dilaporkan sempat dihadang oleh kapal-kapal kecil bersenjata pada Selasa, 3 Februari 2026.
Insiden tersebut menambah daftar panjang ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Kapal tanker bernama Stena Imperative dilaporkan dihentikan sementara saat melintas di perairan sekitar 30 kilometer di utara Oman. Dalam kejadian itu, kapal tersebut didekati oleh enam perahu kecil yang bergerak berpasangan dan diduga kuat merupakan milik Garda Revolusi Iran.
“Situasi sempat menegang, namun kapal akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan,” demikian pernyataan perusahaan keamanan maritim asal Inggris yang dikutip media Eropa, Selasa.
Perusahaan tersebut juga menyebutkan bahwa setelah insiden itu, kapal tanker berada di bawah pengawalan kapal perang Amerika Serikat untuk memastikan keselamatan pelayaran.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau UKMTO turut membenarkan adanya kejadian tersebut. Lembaga yang memantau keamanan pelayaran global itu menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penelusuran lebih lanjut guna memastikan kronologi dan latar belakang insiden.
Dalam laporan UKMTO disebutkan, kapal-kapal kecil bersenjata sempat beberapa kali mencoba melakukan komunikasi melalui radio VHF. Namun, awak Stena Imperative memilih tidak merespons dan tetap melanjutkan pelayaran tanpa berhenti.
“Upaya komunikasi dilakukan, tetapi kapal tanker melanjutkan perjalanan sesuai rencana,” tertulis dalam laporan UKMTO.
Meski demikian, otoritas Inggris tidak mengungkap secara rinci identitas maupun kewarganegaraan kapal-kapal kecil yang terlibat dalam penghadangan tersebut.
Dari pihak Iran, kantor berita Fars mengutip pernyataan seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya. Pejabat itu mengeklaim bahwa kapal tanker tersebut telah memasuki wilayah perairan Iran tanpa izin resmi.
“Kapal telah diperingatkan dan kemudian segera meninggalkan area tersebut. Tidak ada insiden keamanan lanjutan,” ujar pejabat tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Sebagian besar distribusi minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati perairan sempit ini, menjadikannya titik rawan konflik geopolitik. Pekan lalu, pejabat tinggi angkatan laut Garda Revolusi Iran bahkan mengeluarkan pernyataan keras terkait kemungkinan penutupan selat jika Amerika Serikat melancarkan serangan.
Di tengah situasi tersebut, hubungan Teheran dan Washington terus memanas. Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, sementara Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam Iran menyusul tindakan keras pemerintah Teheran terhadap gelombang protes nasional.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri untuk membuka jalur dialog dengan Amerika Serikat. Ia menekankan pentingnya negosiasi yang adil dan setara.
“Kami terbuka untuk perundingan selama dilakukan secara seimbang dan saling menghormati,” kata Pezeshkian pada Selasa.
Trump sebelumnya juga menyatakan keyakinannya bahwa Iran ingin kembali ke meja perundingan, terutama terkait program nuklir Teheran yang menjadi salah satu isu utama dalam hubungan kedua negara.
Sebelum konflik bersenjata antara Israel dan Iran pecah selama 12 hari pada Juni lalu, Washington dan Teheran sempat menjalani beberapa putaran negosiasi terkait isu nuklir. Namun situasi berubah drastis setelah Trump memerintahkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran, termasuk situs Fordo yang diyakini sebagai pusat pengayaan uranium negara tersebut.
Insiden di Selat Hormuz ini pun dipandang sebagai sinyal bahwa ketegangan kawasan masih jauh dari mereda.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan