fokus6.net, JAKARTA — Kue nastar hampir tidak pernah absen dari toples kaca yang berderet rapi di meja ruang tamu setiap Lebaran. Bulatan kuning mengilap berisi selai nanas asam manis ini bukan sekadar kue kering biasa — melainkan sepotong sejarah yang melintasi samudera.

Nama nastar berasal dari dua kata bahasa Belanda, yakni Ananas yang berarti nanas dan Taartjes yang berarti kue tart. Kue nastar sejatinya merupakan turunan dari European Peach Tart, kue pai isi buah persik yang populer di daratan Eropa.

Kue Nastar Lahir dari Adaptasi Dapur Kolonial Belanda

Ketika Belanda menginjakkan kaki di Nusantara berabad-abad silam, para koki kolonial kesulitan menemukan buah persik, beri, atau apel sebagai bahan isian pai. Mereka kemudian melirik buah tropis yang melimpah di tanah jajahan — nanas.

Nanas yang asam segar pun diolah menjadi selai padat lalu dibungkus adonan tepung, mentega, dan telur yang gurih. Bentuknya juga mengalami evolusi dari pai berukuran besar menjadi bulatan kecil seukuran satu suapan agar lebih praktis saat perjamuan.

Pada masa lampau, kue nastar menjadi simbol status sosial. Hanya kaum bangsawan Belanda dan keluarga ningrat pribumi yang bisa mencicipinya karena bahan seperti mentega impor dan tepung terigu masih langka dan mahal.

Kue Nastar Bertransformasi Menjadi Tradisi Lebaran Indonesia

Lambat laun resep nastar merembes ke masyarakat luas dan mengalami proses pribumisasi. Bagi masyarakat Tionghoa, nastar dikenal sebagai Ong Lai yang berarti kemakmuran datang dalam bahasa Hokkien, sehingga bentuknya yang bulat keemasan dianggap melambangkan rezeki yang melimpah.

Tradisi menyajikan kue terbaik bagi tamu saat Lebaran kemudian membawa kue nastar masuk ke ruang tamu setiap keluarga Muslim. Teksturnya yang lumer di mulut dan rasa manisnya yang khas menjadikannya simbol kehangatan silaturahmi.

Baca juga  5 Olahraga Kardio Mudah Tanpa Alat, Efektif Jaga Jantung dan Kebugaran Tubuh

Kini meski varian kue kekinian terus bermunculan, posisi kue nastar tetap tidak tergoyahkan di meja makan Indonesia. Ia telah bertransformasi dari sekadar kue tart nanas ala Belanda menjadi identitas budaya yang abadi — bukti nyata bahwa kreativitas lokal mampu mengubah sesuatu yang asing menjadi tradisi yang bertahan lintas generasi.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net