fokus6.net, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menggeser sebagian sumber impor LPG atau liquefied petroleum gas ke negara lain di luar jalur Selat Hormuz.

Keputusan ini muncul setelah konflik di Timur Tengah mengganggu stabilitas kawasan dan memengaruhi operasional fasilitas energi di Arab Saudi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan turut berdampak pada kilang milik Saudi Aramco yang selama ini menjadi salah satu pemasok LPG Indonesia.

“Dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco. Itu juga kena kemarin dinamika di sana,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Sepanjang tahun ini, Indonesia mencatat impor LPG sebesar 7,8 juta ton. Sekitar 70 persen pasokan berasal dari Amerika Serikat, sementara 30 persen lainnya didatangkan dari kawasan Timur Tengah. Pasokan dari wilayah tersebut selama ini bergantung pada produksi Saudi Aramco.

Bahlil menegaskan pemerintah tidak ingin mengambil risiko terhadap jalur distribusi yang rawan terganggu.

“Maka, alternatifnya, kami alihkan lagi supaya tidak mengambil risiko. Sebagian kami alihkan untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” ucapnya.

Ketegangan meningkat setelah laporan menyebut serpihan drone jatuh di fasilitas pengolahan minyak Saudi Aramco di Ras Tanura dan memicu kebakaran.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi melalui Turki al-Maliki menyampaikan bahwa dua drone mencoba menyerang kilang tersebut. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.

Situasi kawasan semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026, termasuk di Teheran.

Serangan tersebut menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan.

Baca juga  Dorong Digitalisasi Koperasi, Ahmad Bagiawan Minta Pengurus Beradaptasi dengan Teknologi

Pemimpin Tertinggi Iran Syahid

Pada 1 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut.

Televisi pemerintah Iran juga mengonfirmasi kematian Ali Khamenei akibat serangan itu.

Media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz kini praktis tertutup setelah rentetan serangan tersebut, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade total.

Jalur laut itu memegang peran vital dalam perdagangan energi global karena sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia, setara 20 juta barel per hari, melintasinya.

Selain minyak, jalur tersebut juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net