Keir Starmer Tolak Libatkan Militer Inggris Serang Iran
fokus6.net, JAKARTA — Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyampaikan pernyataan tegas di hadapan parlemen terkait sikap London dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam sidang di House of Commons pada Senin (2/3/2026), ia menegaskan bahwa Inggris tidak ikut serta dalam serangan awal terhadap Iran.
Starmer menolak tekanan diplomatik yang datang, termasuk kritik dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menekankan bahwa pemerintahannya mengambil keputusan berdasarkan kalkulasi strategis, bukan dorongan emosi maupun tekanan sekutu.
“Kami tidak bergabung dengan serangan ofensif AS dan Israel. Dasar keputusan kami adalah pertahanan diri kolektif bagi sahabat dan sekutu lama, serta perlindungan bagi nyawa warga negara Inggris,” ujar Starmer di depan anggota parlemen.
Trump Kecewa dengan London
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari Washington. Trump secara terbuka menyatakan kekecewaannya dan menuding London memperlambat pemberian akses bagi militer AS ke pangkalan udara Inggris. Media The Telegraph mengutip pernyataan Trump yang menyebut situasi itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan kedua negara.
“Ini mungkin sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara negara kita. Kami sangat kecewa dengan Keir,” kata Trump.
Starmer menanggapi kritik itu dengan tenang. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab utamanya sebagai perdana menteri adalah menjaga kepentingan nasional Britania Raya. Ia menilai kedaulatan dalam menentukan langkah strategis tidak dapat ditawar.
Meski menolak keterlibatan dalam serangan awal, Starmer mengakui situasi berkembang cepat setelah Iran melancarkan serangan balasan. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang “keterlaluan” dan mengubah kalkulasi keamanan Inggris.
Nyawa Ratusan Ribu Warga Inggris Terancam
Sekitar 200 ribu warga negara Inggris saat ini berada di kawasan Timur Tengah. Starmer menyampaikan kekhawatirannya terhadap keselamatan mereka. “Risiko yang mereka hadapi sangat mengkhawatirkan,” ucapnya.
Ancaman itu bukan sekadar asumsi. Iran menyerang pangkalan militer Inggris di Bahrain pada 28 Februari 2026. Saat ledakan terjadi, sekitar 300 personel Inggris berada hanya beberapa ratus meter dari lokasi serangan. Selain itu, pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus juga menghadapi serangan drone.
Starmer memastikan tidak ada korban jiwa dalam dua insiden tersebut. Ia juga meluruskan isu yang berkembang dengan menegaskan bahwa RAF Akrotiri tidak digunakan sebagai basis pesawat pengebom AS dalam operasi ofensif terhadap Iran.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan