fokus6.net, JAKARTA — Israel menutup akses Masjid Al-Aqsa selama 11 hari berturut-turut dan memblokade jemaah Muslim Palestina yang hendak beribadah di situs suci itu. Penutupan Al-Aqsa Ramadan ini terjadi tepat di sepuluh hari terakhir bulan suci — momen paling krusial bagi umat Islam.

Otoritas Israel berdalih penutupan itu berlangsung karena alasan keamanan menyusul eskalasi konflik dengan Iran. Namun Pemerintah Provinsi Yerusalem menolak narasi itu dan menuding ada agenda politik di balik pemblokiran.

Penutupan ini mencetak sejarah kelam. Umat Islam untuk pertama kali sejak Israel menduduki Yerusalem pada 1967 tidak bisa mendirikan salat Tarawih dan melaksanakan iktikaf di dalam area Masjid Al-Aqsa.

Al-Aqsa Ramadan Jadi Ajang Provokasi Kelompok Ekstremis

Pemerintah Provinsi Yerusalem mengeluarkan peringatan keras soal eskalasi provokasi selama masa penutupan. Organisasi ekstremis sayap kanan Israel, termasuk kelompok aktivis Temple Mount, memanfaatkan momen ini untuk menghasut terhadap keberadaan Masjid Al-Aqsa.

Otoritas Palestina mencurigai konflik dengan Iran hanya menjadi kedok pemerintah Tel Aviv. Pemerintah Provinsi Yerusalem secara tegas menolak klaim keamanan sementara yang militer Israel gaungkan sebagai alasan penutupan.

“Apa yang terjadi bukan tindakan keamanan sementara seperti yang diklaim otoritas penjajah, tetapi agenda politik dan ideologis yang bertujuan mengubah status quo keagamaan, sejarah, dan hukum di kompleks Masjid Al-Aqsa,” tegas pernyataan resmi Pemerintah Provinsi Yerusalem.

Penutupan ini menambah tekanan ganda bagi warga Palestina. Ancaman kekerasan dari militer dan pemukim ekstremis Israel di Tepi Barat dan Yerusalem kini berbarengan dengan dampak geopolitik perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net

Baca juga  Durasi Puasa Ramadan 2026 Lebih Pendek, Ini Perbedaan Waktu Puasa di Berbagai Negara