fokus6.net, JAKARTA – Kabar duka mengguncang Teheran ketika otoritas resmi mengumumkan wafatnya Ali Khamenei pada usia 86 tahun.

Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran itu meninggal akibat serangan gabungan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu, 28 Februari 2026.

Pernyataan resmi muncul setelah Presiden AS saat itu, Donald Trump, menyampaikan bahwa operasi militer tersebut menargetkan sejumlah pejabat tinggi Iran.

Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi bahwa sang pemimpin telah gugur. Kantor berita Tasnim menyiarkan pengumuman yang menyebutnya sebagai syahid Revolusi Islam.

Dalam laporan yang sama menyebutkan sejumlah anggota keluarga dekatnya, termasuk putri, menantu, dan cucunya, turut menjadi korban dalam serangan tersebut.

Pernyataan dari pihak AS sebelumnya menegaskan bahwa target operasi tidak dapat menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih milik Washington.

Memimpin Iran Sejak 1989

Khamenei memegang tampuk kepemimpinan tertinggi sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, tokoh sentral Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki Pahlavi.

Jika Khomeini terkenal sebagai arsitek ideologis revolusi, maka Khamenei adalah figur yang mengokohkan struktur kekuasaan pascarevolusi.

Sebelum menduduki posisi pemimpin tertinggi, ia pernah menjabat sebagai presiden Iran pada era perang panjang melawan Irak pada dekade 1980-an.

Konflik tersebut, dengan dukungan Barat terhadap Saddam Hussein, membentuk pandangan geopolitiknya.

Banyak pengamat menilai pengalaman itu memperdalam kecurigaannya terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat.

Akademisi dan penulis buku The Grand Strategy of Iran, Vali Nasr mengatakan banyak orang melihat Iran sebagai negara teokrasi semata.

Padahal kepemimpinannya terbentuk oleh pengalaman perang yang menanamkan asumsi bahwa negara berada dalam kondisi rentan dan harus terus waspada.

Ia menambahkan bahwa dalam kerangka pikir tersebut, revolusi, republik Islam, dan nasionalisme terlihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dan wajib dijaga.

Baca juga  Rubio Larang Warga AS ke Iran, Ancam Pembatasan Paspor

IRGC Berkembang Pesat

Di bawah arahannya, Islamic Revolutionary Guard Corps berkembang melampaui fungsi paramiliter awalnya.

Lembaga itu bertransformasi menjadi aktor kunci di bidang keamanan, politik, dan ekonomi, sekaligus memperluas pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Konsep ekonomi perlawanan yang didorongnya bertujuan memperkuat kemandirian nasional di tengah sanksi Barat yang berlapis-lapis.

Namun perjalanan kekuasaannya tidak lepas dari ujian berat, gelombang demonstrasi 2009 yang meledak akibat tuduhan kecurangan pemilu dengan tindakan keras.

Pada 2022, protes terkait hak-hak perempuan kembali mengguncang stabilitas domestik.

Awal tahun 2026 bahkan menyaksikan gejolak besar akibat tekanan ekonomi, ketika sebagian demonstran secara terbuka menyerukan perubahan mendasar terhadap sistem politik yang ada.

Para pengkritiknya berpendapat bahwa strategi konfrontatif dan sikap keras terhadap Barat, justru menjauhkan pemerintah dari aspirasi generasi muda yang mendambakan reformasi dan perbaikan taraf hidup.

Nasr menilai bahwa harga yang harus masyarakat Iran bayar atas ambisi kemerdekaan nasional yang tegas itu terlalu tinggi.

Dengan wafatnya Khamenei, Iran memasuki babak baru yang sarat ketidakpastian.

Warisan politiknya mencerminkan kombinasi antara ideologi revolusioner, pengalaman perang, serta keyakinan mendalam bahwa kedaulatan nasional harus dapat bertahan dalam kondisi apa pun.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net