fokus6.net, JAKARTA – Lonjakan kasus campak pada awal 2026 memicu kekhawatiran serius di tingkat nasional.

Dalam dua bulan pertama tahun ini, tercatat 8.224 kasus suspek campak di berbagai daerah.

Anggota Komisi IX DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera mengambil langkah luar biasa untuk mengendalikan penyebaran penyakit tersebut.

Berdasarkan laporan epidemiologi per 23 Februari 2026, terdapat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi.

Angka ini dinilai tidak bisa dianggap remeh mengingat daya tular campak sangat tinggi.

“Kami mendesak Kemenkes segera memperluas cakupan imunisasi. Jangan sampai ada celah imunitas atau immunity gap yang membuat anak-anak kita rentan. Tanpa perlindungan vaksin, risiko penyebaran akan terus meluas secara eksponensial,” tegas Neng Eem dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).

Ia menekankan bahwa campak bukan sekadar penyakit dengan gejala ruam kulit.

Virus ini bersifat imunosupresif yang dapat menurunkan daya tahan tubuh anak secara signifikan.

Kondisi tersebut berisiko menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare akut yang menyebabkan dehidrasi, hingga radang otak atau ensefalitis.

“Campak bisa menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Selain berdampak langsung pada kesehatan individu, wabah ini juga memberi tekanan besar pada sistem layanan kesehatan,” ujarnya.

Data yang muncul juga mencatat adanya empat kasus kematian, terutama pada anak dengan kondisi gizi buruk.

Fakta ini, menurut Neng Eem, menjadi peringatan bahwa penanganan tidak boleh setengah hati.

Untuk memutus mata rantai penularan, ia menegaskan pentingnya cakupan imunisasi minimal 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Namun, tantangan di lapangan masih besar, terutama karena maraknya misinformasi yang memicu penolakan vaksin.

Baca juga  DPR Ingatkan Risiko Iuran Dewan Perdamaian Gaza, Syamsu Rizal Minta Pemerintah Indonesia Waspada

Neng Eem meminta Kemenkes memperkuat strategi komunikasi risiko dengan menggandeng tenaga medis serta tokoh masyarakat agar pesan kesehatan tersampaikan secara efektif.

“Harus persuasif dan menyentuh masyarakat langsung agar informasi medis diterima dengan benar demi melindungi generasi masa depan,” pungkasnya.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net