Aisyah Ar Rumy Wakili Indonesia di Dubai International Holy Quran Award, Hafal 26 Juz di Usia 9 Tahun
fokus6.net, JAKARTA — Dari ruang kelas sederhana di Kabupaten Malang, langkah seorang anak menuju panggung internasional mulai terukir. Aisyah Ar Rumy, siswi kelas IV SD Tahfidz Alquran Daarul Ukhuwwah, dipercaya membawa nama Indonesia dalam ajang Dubai International Holy Quran Award di Uni Emirat Arab.
Namanya lebih dulu dikenal publik ketika tampil dalam program Hafiz Indonesia. Penampilannya yang tenang saat melafalkan ayat-ayat suci menghadirkan suasana hening penuh takzim. Lantunannya dinilai bukan sekadar hafalan, tetapi cerminan kedalaman penghayatan yang jarang terlihat pada anak seusianya.
Lahir di Malang pada 19 November 2016, Aisyah telah menghafal 26 juz Alquran meski usianya belum genap 10 tahun. Rutinitasnya terbilang disiplin. Setiap hari, ia menjaga hafalan dengan membaca ulang tiga hingga lima juz.
Di balik capaian itu, ada peran kedua orang tuanya, Muhammad Qowiyyul Huda dan Maisyaroh Cholilah, yang setia mendampingi proses belajarnya. Aisyah menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang terus mengalir. “Aisyah harus berterima kasih banyak. Doakan lancar sehingga Aisyah di sana lancar dan dapat menjawab semua pertanyaannya. Insya Allah. Senang banget dapat dukungan dari Pak Bupati sendiri,” tuturnya polos dalam keterangan resmi Pemkab Malang, Selasa (24/2/2026).
Partisipasi Aisyah di ajang internasional tersebut bukan hanya capaian pribadi, melainkan juga kebanggaan daerah. Ia tercatat sebagai peserta pertama dari Kabupaten Malang yang tampil dalam kompetisi bergengsi tingkat dunia itu.
Prosesi pelepasan keberangkatannya berlangsung penuh haru di pendopo kabupaten. Doa dan dukungan mengiringi langkahnya menuju Dubai. Momen tersebut menjadi simbol kebanggaan kolektif masyarakat Malang atas lahirnya generasi Qurani dari daerah mereka.
Bupati Malang, Sanusi, hadir langsung memberikan dukungan. Bantuan dana sebesar Rp32 juta diserahkan untuk mendukung kebutuhan Aisyah selama mengikuti kompetisi, mengingat biaya akomodasi telah ditanggung panitia. “Aisyah sudah masuk enam besar. Dia adalah siswa pertama dari Kabupaten Malang yang mewakili Indonesia. Kita dukung uang sakunya Rp32 juta karena seluruh akomodasi ditanggung panitia,” ujar Sanusi saat melepas keberangkatan di sekolah Aisyah di Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Rabu (18/2/2026).
Menurut Sanusi, pemerintah daerah konsisten mendorong lahirnya generasi yang dekat dengan Alquran melalui kebijakan muatan lokal Sekolah Plus Ngaji. Program tersebut mewajibkan siswa membaca Alquran sebelum pelajaran dimulai, sementara siswa non-Muslim membaca kitab suci masing-masing dalam kerangka Sekolah Moderasi.
Ia berharap keberhasilan Aisyah menjadi pemantik semangat bagi anak-anak lain. “Harapannya, akan ada Aisyah-Aisyah lain yang tumbuh dari Kabupaten Malang. Seperti halnya atlet berprestasi yang kita dukung ke tingkat internasional, kita juga mendukung prestasi di bidang Alquran,” tegasnya.
Perjalanan Aisyah menunjukkan bahwa konsistensi dan doa berjalan beriringan. Di tengah derasnya arus digital dan tantangan zaman, hadirnya sosok penghafal Alquran dari desa kecil di Malang menjadi penanda bahwa cahaya pendidikan berbasis nilai spiritual tetap bersinar.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan