fokus6.net, JAKARTA — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pertengahan 2026, dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mulai mengemuka. Institut Nahdliyin Nusantara merilis 14 nama yang dinilai berpeluang maju dalam kontestasi kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Peneliti Insantara, Wildan Efendy, menjelaskan bahwa pemetaan kandidat melalui tiga indikator utama, yakni tingkat popularitas, rekam jejak pengabdian, serta hasil wawancara mendalam dengan pengurus dan warga NU di berbagai daerah. “Yakni tingkat popularitas, rekam jejak, serta hasil wawancara mendalam dengan pengurus hingga warga NU,” ujarnya di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Dari hasil kajian itu, nama-nama kandidat masuk dalam empat klaster. Pada klaster internal PBNU terdapat Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai petahana, Mohammad Nuh, Syaifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa.

Caketum NU Terbagi Dalam Berbagai Klaster

Klaster pengurus wilayah yakni Abdul Ghaffar Razin, Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, serta Juhadi Muhammad. Sementara pada klaster tokoh NU dan pesantren tercantum Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, dan Marzuqi Mustamar.

Adapun klaster tokoh politik dan pemerintahan memuat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Nusron Wahid yang menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Wildan menambahkan, aspirasi di tingkat wilayah dan cabang menunjukkan dorongan kuat agar terjadi transisi kepemimpinan di tubuh PBNU. “Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU,” katanya.

Sebelumnya, rapat pleno PBNU telah menetapkan Muktamar ke-35 NU akan bergulir pada Juli atau Agustus 2026.

Baca juga  Skandal Restitusi Pajak Rp48,3 Miliar Terbongkar, KPK Tahan Tiga Tersangka Suap di Banjarmasin

Salah satu nama yang belakangan mencuat adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Ketua PWNU Jawa Timur. Pada Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Malang, Minggu (8/2/2026), ia merupakan figur yang memiliki kesiapan memimpin PBNU.

Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, menyebut Gus Kikin sosok dengan kombinasi berbagai latar belakang. Yakni keilmuan dan pengalaman organisasi yang kuat.

“Sehari serasa menjadi Ketua Umum PBNU. Beliau kupas pentingnya soliditas organisasi, pentingnya mengamalkan nilai-nilai Qonun Asasi,” ucap seorang panitia dalam acara tersebut.

Dalam pidatonya, Gus Kikin menekankan pentingnya menjaga persatuan NU memasuki abad kedua. Ia menyebut momentum satu abad sebagai anugerah sekaligus tanggung jawab besar. “Pagi ini menggambarkan keguyuban, kita mensyukuri perjalanan NU yang telah berusia 1 abad,” katanya di hadapan ribuan jamaah.

Ia juga menyinggung simbolisme Stadion Gajayana yang telah berusia seabad sebagai ruang kebersamaan. “Stadion Gajayana 100 tahun pertama, sebuah stadion di Indonesia untuk menjaga persatuan,” tegasnya.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net