fokus6.net, JAKARTA — Musim Ramadan kembali menghadirkan gelombang besar jemaah umrah ke Masjidil Haram. Pada Ramadan 1447 H/2026, otoritas Arab Saudi memproyeksikan lonjakan signifikan, terutama menjelang sepuluh malam terakhir yang selama ini dikenal sebagai periode paling padat.

Untuk mengantisipasi kepadatan tersebut, pemerintah setempat merilis pedoman operasional terbaru yang dirancang guna menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran arus jemaah di kawasan pusat Makkah. Kebijakan ini menjadi bagian dari skema terpadu pengendalian massa serta penguatan respons darurat agar ibadah berlangsung khusyuk dan tertib.

Mengutip laporan Gulf News pada Selasa (24/2/2026), regulasi itu menitikberatkan pada manajemen pergerakan di sekitar Masjidil Haram yang kerap mengalami lonjakan sebelum dan sesudah waktu salat. Otoritas mengingatkan bahwa kepadatan ekstrem berpotensi terjadi pada waktu berbuka dan selepas salat tarawih.

Petugas keamanan bersiaga di berbagai titik strategis untuk mengarahkan arus jemaah sesuai jalur pejalan kaki yang telah mereka tetapkan.

“Kepatuhan terhadap rambu dan arahan petugas menjadi kunci keselamatan bersama,” demikian penegasan otoritas setempat.

Suasana tenang dan saling menghormati arus pergerakan sebagai faktor penting dalam mencegah insiden di tengah kerumunan besar.

Sebagai inovasi baru, pintu-pintu masuk masjid kini lengkap dengan indikator digital yang memperlihatkan kapasitas area salat secara real time. Tanda hijau menunjukkan ruang masih tersedia, sedangkan indikator merah menandakan area telah penuh.

Dari sisi transportasi, pemerintah mendorong penggunaan sarana umum seperti bus, taksi, dan kereta cepat Haramain. Pembatasan kendaraan pribadi berlaku pada jam-jam sibuk di zona pusat kota. Area parkir di pinggiran lengkap dengan layanan shuttle untuk membantu mobilitas jemaah. Strategi ini berlaku khususnya pada waktu-waktu krusial menjelang berbuka puasa dan pelaksanaan tarawih.

Baca juga  Ayatollah Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung

Perhatian khusus juga sasar jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas. Mereka memperoleh akses prioritas menuju area salat tertentu, jalur khusus, serta fasilitas kendaraan listrik untuk mendukung pelaksanaan tawaf. “Pengaturan ini bertujuan memastikan semua jemaah dapat beribadah dengan aman dan nyaman,” jelas pernyataan resmi otoritas.

Arab Saudi Keluarkan Sejumlah Aturan Bagi Jemaah

Petugas juga anjurkan keluarga mempertimbangkan faktor keselamatan saat membawa anak-anak ke area dengan kepadatan tinggi. Langkah tersebut dipandang penting demi meminimalkan risiko di tengah arus jemaah yang meningkat tajam.

Aspek kesehatan turut menjadi perhatian. Petugas ingatkan jemaah menjaga kebugaran tubuh dengan asupan cairan yang cukup, istirahat memadai, serta menghindari paparan panas berlebihan. Apabila mengalami gangguan kesehatan, layanan medis siaga di berbagai titik untuk memberikan pertolongan cepat.

Di tempat penginapan, petugas minta jemaah memahami jalur evakuasi darurat, tidak membebani instalasi listrik, dan memastikan perangkat keselamatan kebakaran bisa terakses. Imbauan ini menjadi bagian dari standar keselamatan selama musim puncak kunjungan.

Dari sisi keamanan umum, setiap jemaah wajib memiliki izin umrah resmi dalam format digital serta mengikuti sistem penjadwalan guna mengurangi kepadatan.

Sejumlah larangan berlaku selama Ramadan, termasuk membawa senjata, merokok di area terlarang, mengemis, berdagang tanpa izin, menghambat arus jemaah, serta memasuki zona perawatan. Petugas kerajaan Arab Saudi juga mengimbau segera melapor apabila melihat aktivitas yang mencurigakan.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net