fokus6.net, JAKARTA — Penampakan hilal Ramadan 1447 Hijriah di langit Palestina pada Rabu, 18 Februari 2026, menandai datangnya bulan suci bagi umat Islam. Namun di Jalur Gaza, kabar itu tak serta-merta menghadirkan suka cita. Ramadan kali ini hadir dalam suasana yang jauh dari perayaan, di tengah luka perang, ketidakpastian gencatan senjata, dan kesulitan hidup yang membelit.

Di banyak sudut Gaza, suasana yang biasanya semarak oleh lampu hias dan keramaian pasar kini berganti dengan pemandangan bangunan runtuh dan jalanan lengang. Konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas telah meninggalkan jejak kehancuran yang mendalam di wilayah tersebut.

Fedaa Ayyad, warga Kota Gaza, menggambarkan perasaan kehilangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. “Tidak ada lagi kegembiraan setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih,” tuturnya pelan. Baginya, Ramadan tahun ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan duka yang belum sembuh.

Ia mengaku suasana sahur dan berbuka kini terasa hampa tanpa kehadiran anggota keluarga yang telah tiada. “Mencoba merasakan semangat Ramadan di hati saat ini terasa hampir mustahil,” katanya.

Menurut data Otoritas Kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023. Meskipun gencatan senjata telah dimediasi Amerika Serikat dan berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi keamanan di lapangan masih rapuh dan jauh dari stabil.

Kesulitan warga tidak berhenti pada aspek keamanan. Roda ekonomi hampir lumpuh total. Di pasar-pasar tradisional yang tersisa, aktivitas perdagangan berjalan sangat minim. Banyak keluarga tidak memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan dasar.

“Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan. Ramadan memang tiba, tapi Ramadan membutuhkan biaya,” ujar Waleed Zaqzouq. Ia mengenang masa sebelum perang ketika kehidupan masih berjalan normal dan warga dapat menyambut Ramadan dengan penuh persiapan.

Kini, menurutnya, masyarakat lebih sibuk memikirkan cara bertahan hidup daripada merencanakan hidangan berbuka. “Dulu kami hidup dengan martabat. Sekarang kami hanya berusaha bertahan,” ucapnya.

Situasi semakin berat dengan datangnya musim dingin. Hujan deras yang mengguyur wilayah Gaza kerap menggenangi kamp-kamp pengungsian yang hanya beratapkan terpal. Di tengah suhu rendah dan fasilitas terbatas, para pengungsi harus menghadapi Ramadan dalam kondisi serba kekurangan.

Raed Koheel, warga lainnya, teringat bagaimana lampu-lampu Ramadan dahulu menghiasi jalanan dan membuat anak-anaknya tersenyum. “Sekarang lampu-lampu itu padam. Yang tersisa hanya gelap dan harapan agar suatu hari perdamaian benar-benar datang,” katanya.

Di tengah kehancuran, secercah semangat tetap muncul lewat karya seni. Di Khan Younis, seorang kaligrafer bernama Hani Dahman melukis kalimat Ahlan wa Sahlan ya Ramadan di dinding bangunan yang rusak akibat perang. Dengan sapuan kuas dan cat seadanya, ia berusaha menghadirkan sedikit warna di antara puing-puing.

“Kami mencoba membawa sedikit kebahagiaan ke hati anak-anak dan keluarga di sini. Kami ingin mengirim pesan kepada dunia: kami adalah bangsa yang mencintai kehidupan,” tegas Dahman.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net