fokus6.net, JAKARTA – Langkah diplomasi militer Indonesia untuk menugaskan ribuan prajurit ke Jalur Gaza di bawah bendera Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Forces (ISF) kini menjadi sorotan global. Media dari Tel Aviv hingga London ramai membahas keterlibatan Indonesia, yang diperkirakan menjadi negara pertama yang menempatkan personelnya dalam misi penjaga perdamaian tersebut.

Tidak sekadar mengirim pasukan, langkah ini dianggap sebagai perubahan geopolitik penting. Indonesia kini bergerak dari peran diplomasi di meja perundingan menjadi aktor langsung di lapangan, memimpin upaya menjaga stabilitas di wilayah yang rentan konflik.

Media Israel memberikan perhatian khusus pada rencana ini. The Jerusalem Post menulis bahwa Indonesia diproyeksikan menjadi negara pertama yang menyumbangkan pasukan untuk ISF selama fase kedua gencatan senjata. Channel 11 menambahkan, pengerahan pasukan ini akan dilakukan tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Dewan Perdamaian atau Board of Peace di Washington pada 19 Februari 2026.

Namun, peran pasukan Indonesia dipastikan non-kombatan. The Jerusalem Post menegaskan bahwa TNI tidak akan terlibat konfrontasi langsung dengan Hamas, melainkan fokus pada pengawasan gencatan senjata serta pengelolaan perbatasan.

Detail operasional yang dilaporkan media Israel juga cukup rinci. The Times of Israel menyebutkan kesiapan 5.000 hingga 8.000 prajurit yang difokuskan pada unit teknis dan medis. Sementara Ynetnews melaporkan bahwa delegasi Indonesia akan segera bergabung dengan pusat komando AS di Kiryat Gat untuk membahas aturan operasional bersama IDF.

Lebih jauh, Ynetnews menyebut pasukan Indonesia diperkirakan akan menggantikan tentara IDF di sepanjang ‘Garis Kuning’ Gaza pada akhir tahun ini, dengan persiapan pelatihan di Yordania atau Mesir untuk memastikan keamanan pembangunan awal di Rafah.

Dari Inggris, The Guardian menyebut rencana ini sebagai langkah bersejarah. Kehadiran 8.000 pasukan Indonesia menjadi pasukan asing pertama di Gaza sejak 1967, menempatkan negara kita di pusat salah satu konflik paling kompleks di dunia.

BBC mencatat adanya pro dan kontra di dalam negeri. Keputusan bergabung dengan dewan yang dibentuk Donald Trump sempat memicu kritik dari beberapa kelompok Islam. Namun, Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas demi tercapainya Two-State Solution, sebuah narasi yang mendapatkan pengakuan dari komunitas internasional.

Media Singapura, Channel News Asia (CNA), melaporkan bahwa proses seleksi prajurit dilakukan ketat sejak November 2025. Juru bicara TNI, Mayjen Freddy Ardianzah, menegaskan bahwa pasukan yang terpilih merupakan prajurit berpengalaman dalam operasi kemanusiaan internasional.

Di sisi lain, media Uni Emirat Arab, Khaleej Times, menyoroti dampak diplomasi lain dari langkah ini, termasuk potensi penguatan kerja sama dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang kemungkinan akan dibahas bersamaan dengan KTT Board of Peace di Washington.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net