Kelemahan BYD Atto 1 Premium, Mobil Listrik Ratusan Juta Rupiah yang Jadi Kendaraan Dinas Pemko Banjarmasin
fokus6.net, JAKARTA – Nama merek mobil listrik BYD Atto 1 Premium jadi perbincangan hangat, menyusul kebijakan Pemko Banjarmasin memborongnya untuk dibagikan kepada kepala dinas hingga camat.
Meski dari laman resmi byd.com, varian Atto 1 Premium hanya dibanderol Rp235 juta. Pengadaan yang dilakukan lewat pos anggaran Bagian Umum Pemko Banjarmasin tercatat punya pagu Rp5.250.000.000 bersumber dari APBD 2026. Itu artinya, per unit mobil bernilai Rp250 juta.
Di balik tampilannya yang menarik, nyatanya terdapat sejumlah kelemahan yang patut diketahui, terutama jika dibandingkan dengan mobil listrik lain di kelasnya. Berikut rangkuman fokus6.net melansir dari berbagai sumber di mesin pencari.
Desain Modern, Dimensi Kompak
Secara tampilan, BYD Atto 1 Premium mengusung bahasa desain khas BYD yang futuristis. Lampu LED lengkap dengan Daytime Running Light (DRL) membuatnya terlihat modern, sementara bodi kompak dengan panjang 3.780 mm, lebar 1.715 mm, tinggi 1.540 mm, serta jarak sumbu roda 2.500 mm menjadikannya cocok untuk penggunaan perkotaan.
Mobil ini ditenagai motor listrik bertenaga 75 PS dengan torsi 135 Nm dan mampu melaju hingga sekitar 130 km/jam. Untuk kebutuhan mobilitas harian, performa tersebut tergolong responsif.
Ciri unik lainnya adalah head unit yang bisa diputar secara horizontal maupun vertikal. Velg 16 inci berwarna gelap turut mempertegas karakter urban electric hatchback. Varian Premium juga menghadirkan kabin yang terasa lebih modern berkat material kulit sintetis, setir berlapis kulit dengan pengaturan tilt dan telescopic, kursi elektrik enam arah, wireless charger, hingga fitur keselamatan tambahan seperti enam airbag.
Premium dibekali baterai berkapasitas 38,88 kWh dengan klaim jarak tempuh maksimal 380 km serta kemampuan menerima pengisian daya hingga 40 kW, yang secara teori membuat proses charging lebih cepat.
Meski begitu, sejumlah catatan penting muncul ketika mobil ini dibandingkan dengan kompetitor di segmen EV kompak.
Kabin Terasa Sempit untuk Penumpang Belakang
Sebagai mobil listrik berukuran compact, ruang kabin BYD Atto 1 Premium tergolong terbatas. Penumpang dengan postur tinggi berpotensi merasa kurang nyaman, terutama pada ruang kaki di baris kedua.
Kondisi ini bisa menjadi pertimbangan, terlebih jika kendaraan digunakan sebagai mobil dinas yang kerap membawa beberapa penumpang sekaligus.
Interior Masih Didominasi Material Keras
Walau terlihat modern, nuansa interior mobil ini masih terasa sederhana. Dashboard minimalis dengan aksen bergelombang memang memberikan kesan futuristis, namun dominasi material plastik keras membuat kualitas kabin terasa belum sekelas beberapa rivalnya.
Bagi pengguna yang mengutamakan kenyamanan dan kesan premium, aspek ini bisa menjadi kekurangan.
Jarak Tempuh Belum Ideal untuk Perjalanan Panjang
Dengan daya jelajah hingga 380 km, BYD Atto 1 Premium sebenarnya cukup untuk penggunaan dalam kota. Namun jika dibandingkan dengan beberapa mobil listrik terbaru yang menawarkan jarak tempuh lebih jauh, angka tersebut masih tergolong terbatas.
Hal ini membuat mobil kurang ideal untuk perjalanan antar kota, terlebih di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya yang belum merata.
Infrastruktur Charging Masih Minim
Ketersediaan charging station di Indonesia memang terus berkembang, terutama di kota besar. Namun di sejumlah daerah kabupaten atau wilayah pelosok, fasilitas pengisian daya masih sulit ditemukan.
Situasi ini tentu dapat memengaruhi fleksibilitas penggunaan kendaraan listrik, termasuk bagi instansi pemerintah yang memiliki mobilitas tinggi.
Performa Kurang Agresif
Motor listrik 55 kW (75 hp) dengan torsi 135 Nm memang memberikan akselerasi awal yang cukup cepat, bahkan mampu mencapai 0–50 km/jam dalam sekitar 4,9 detik. Namun performanya cenderung menurun saat melaju pada kecepatan lebih tinggi.
Bagi pengemudi yang mengharapkan tenaga lebih besar, terutama untuk jalur menanjak atau perjalanan jauh, karakter ini bisa terasa kurang bertenaga dibanding kompetitor.
Pendingin Kabin Belakang Kurang Optimal
Beberapa ulasan juga menyoroti performa AC yang dinilai kurang merata hingga ke baris belakang. Dalam iklim tropis seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi membuat penumpang belakang merasa kurang sejuk, terutama saat cuaca panas.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan