fokus6.net, JAKARTA – Grandprix Thomryes Marth Kadja menjadi salah satu doktor muda Indonesia yang menorehkan prestasi membanggakan di usia 24 tahun. Pemuda asal Desa Tarus, Kupang, Nusa Tenggara Timur itu berhasil masuk daftar 2 persen ilmuwan terbaik dunia versi Elsevier dan Universitas Stanford pada 2024 dan 2025.

Grandprix meraih pengakuan internasional berkat kontribusinya dalam riset material nano dan energi berkelanjutan. Ia menghasilkan sembilan karya ilmiah, dengan delapan di antaranya terbit di jurnal internasional bereputasi.

Prestasi Doktor Muda Indonesia dari NTT

Ketekunan Grandprix dalam dunia akademik sudah terlihat sejak bangku sekolah. Ia kerap meraih predikat juara kelas hingga akhirnya masuk Universitas Indonesia dan lulus pada 2013 dengan predikat cumlaude.

Selanjutnya, ia mendapat beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dan melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung. Grandprix kini mengabdikan diri sebagai dosen pada Kelompok Keahlian Kimia Anorganik dan Fisik ITB.

Selain itu, ia aktif sebagai peneliti di Pusat Rekayasa Katalisis ITB sejak 2019. Fokus risetnya mencakup material nanopori dan MXene, material nano dua dimensi yang relatif baru dalam dunia sains.

“Lab kami adalah yang pertama mengembangkan MXene di Indonesia sejak tahun 2019,” ujar Grandprix, dikutip dari laman resmi ITB, Sabtu (7/2/2026).

Keterbatasan Justru Memicu Inovasi

Sebagai ilmuwan muda, Grandprix menghadapi keterbatasan fasilitas dan bahan penelitian. Namun kondisi itu justru mendorongnya terus berinovasi dan membangun kolaborasi dengan peneliti luar negeri.

“Muda bukan hanya soal usia, tetapi tentang semangat yang menyala dan tidak pernah padam. Kita tidak boleh merasa kecil karena masih muda,” tuturnya.

Lebih lanjut, Grandprix optimistis riset katalis yang ia geluti akan memberi dampak besar dalam beberapa tahun mendatang. Dengan demikian, perjalanan doktor muda Indonesia ini membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berkontribusi bagi sains dan bangsa.

Baca juga  DPR Kecam Serangan Israel ke Gaza saat Gencatan Senjata, Sukamta Soroti Pelanggaran Hukum Humaniter

“Lebih dari 90 persen proses industri kimia membutuhkan katalis. Inovasi yang efisien dan berkelanjutan akan sangat berpengaruh pada sektor energi, lingkungan, dan manufaktur nasional,” jelasnya.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net