Sosok Mulyono yang Ditangkap KPK, Ternyata Dalang Kondang Punya 43 Ribu Pengikut
fokus6.net, BANJARMASIN – Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyeret Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin, Mulyono Purwo Wijoyo. Ia diamankan bersama dua orang lainnya dalam operasi yang diduga berkaitan dengan praktik suap pengurusan restitusi pajak di wilayah Kalimantan Selatan.
Penangkapan tersebut langsung menarik perhatian publik. Mulyono bukan hanya dikenal sebagai pejabat Direktorat Jenderal Pajak, tetapi juga memiliki reputasi di dunia seni pedalangan. Di kalangan seniman, ia lebih populer dengan sapaan Ki Mulyono Purwo Wijoyo, seorang dalang yang dikenal aktif melestarikan budaya tradisional.
Pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu diamankan pada Rabu (4/2). Peristiwa ini seakan memperlihatkan dua sisi kehidupannya: figur seniman yang kerap menyampaikan pesan moral melalui pertunjukan wayang, namun kini harus menghadapi proses hukum sebagai penyelenggara negara.
Berdasarkan sejumlah informasi, Mulyono baru menjabat sebagai Kepala KPP Madya Banjarmasin sejak Juni 2025 setelah dilantik langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sebelumnya, ia pernah memimpin KPP Pratama Tanjung di Kabupaten Tabalong pada 2023.
Kariernya di lingkungan pajak juga mencatat pengalaman sebagai Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II di KPP Pratama Klaten. Rekam jejak tersebut membuat namanya cukup dikenal di internal Direktorat Jenderal Pajak.
Di luar dunia birokrasi, Mulyono memiliki ciri khas yang mudah dikenali, termasuk gaya rambut gondrong yang mencerminkan kedekatannya dengan dunia seni tradisional. Kemampuannya dalam mendalang membuatnya dipercaya menjadi Wakil Ketua Pusat Persatuan Perdalangan Indonesia. Ia juga mendirikan Komunitas Sanggar Cemara yang berfokus pada pelestarian wayang kulit.
Aktivitas keseniannya turut terlihat di media sosial. Melalui akun Instagram @ki.mulyono.pw yang memiliki sekitar 43 ribu pengikut, ia kerap membagikan kegiatan, baik saat menjalankan tugas sebagai pejabat pajak maupun ketika tampil sebagai dalang. Gelar “Ki” bahkan secara konsisten disematkan di depan namanya sebagai identitas budaya.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan