fokus6.net, JAKARTA – Sedikitnya 32 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian serangan udara Israel yang menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026), meski kesepakatan gencatan senjata masih diberlakukan. Informasi ini disampaikan otoritas setempat di Gaza.

Badan pertahanan sipil Gaza yang berada di bawah pengelolaan Hamas menyatakan bahwa perempuan dan anak-anak termasuk di antara korban tewas.

Serangan udara dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Khan Younis di Gaza selatan, serta beberapa area lain di sepanjang Jalur Gaza.

Warga Gaza menyebut serangan tersebut sebagai yang paling masif sejak dimulainya fase kedua gencatan senjata awal Januari 2026, yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Oktober tahun lalu.

Pihak militer Israel membenarkan adanya serangan udara tersebut. Dalam keterangannya, Israel menyebut aksi militer itu dilakukan sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.

Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku tahun lalu, Israel dan Hamas saling menuduh pihak lawan melanggar perjanjian yang telah disepakati.

Dalam pernyataan resmi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka mengidentifikasi delapan orang yang keluar dari infrastruktur bawah tanah yang disebut sebagai jaringan teror di Rafah timur, wilayah tempat pasukan Israel dikerahkan.

IDF menyatakan bahwa bersama Badan Keamanan Israel (ISA), mereka melakukan serangan terhadap gudang senjata, fasilitas produksi senjata, serta dua lokasi peluncuran roket Hamas di Gaza bagian tengah.

Di sisi lain, Hamas mengecam keras serangan tersebut dan menyerukan kepada Amerika Serikat untuk segera mengambil langkah tegas. Hamas menilai serangan yang terus berulang menjadi bukti bahwa pemerintah Israel melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai perang genosida brutal terhadap Gaza.

Baca juga  Presiden Prabowo Hadiri KTT Board of Peace di AS, Indonesia Dorong Perlindungan Warga Palestina

Juru bicara pertahanan sipil Gaza mengatakan bahwa serangan udara tersebut menghantam apartemen permukiman, tenda-tenda pengungsi, tempat penampungan, serta sebuah kantor polisi. Hamas menyebutkan tujuh korban tewas berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis.

Sementara itu, pejabat Rumah Sakit Shifa di Gaza mengonfirmasi bahwa satu serangan udara menghantam sebuah apartemen dan menewaskan tiga anak.

“Kami menemukan tiga keponakan kecil saya tergeletak di jalan. Mereka bilang ini ‘gencatan senjata’. Apa salah anak-anak itu? Apa salah kami?” ujar Samer al-Atbash, salah satu anggota keluarga korban, seperti dikutip Reuters, Sabtu (31/1/2026).

Otoritas setempat juga melaporkan bahwa sebuah kantor polisi di Gaza menjadi sasaran serangan udara, yang mengakibatkan sedikitnya 12 orang tewas.

Serangan tersebut terjadi menjelang rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah, perbatasan antara Gaza dan Mesir, yang dijadwalkan dibuka pada Minggu (1/2/2026).

Kementerian Luar Negeri Mesir mengecam keras serangan itu dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

Qatar, yang berperan sebagai salah satu mediator utama gencatan senjata, juga menyampaikan kecaman terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran berulang oleh Israel, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi kementerian luar negeri Qatar.

Mengutip BBC, Minggu (1/1/2026), pada Januari 2026, utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff mengumumkan dimulainya fase kedua kesepakatan gencatan senjata.

Fase ini mencakup pembentukan pemerintahan Palestina teknokratik di Gaza, upaya rekonstruksi wilayah, serta demiliterisasi penuh, termasuk pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 71.660 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai.

Selain itu, tercatat setidaknya 509 orang meninggal dunia sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, sementara empat tentara Israel juga dilaporkan tewas.

Baca juga  Indonesia Kirim 8.000 Prajurit TNI ke Gaza, Fokus Perlindungan Warga dan Rehabilitasi

Meski sebelumnya membantah data korban dari otoritas Gaza, seorang sumber keamanan senior Israel mengakui bahwa militer Israel menerima angka korban Palestina yang melampaui 70.000 jiwa selama perang berlangsung.

Data korban dari Kementerian Kesehatan Gaza dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai organisasi hak asasi manusia internasional dan kerap dijadikan rujukan oleh media global.

Hingga kini, Israel tidak mengizinkan media internasional masuk ke Gaza untuk melakukan peliputan secara independen.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net