fokus6.net, JAKARTA – Nyeri sendi menjadi keluhan yang cukup sering dialami berbagai kelompok usia, tidak hanya lansia, tetapi juga orang dewasa hingga remaja.

Keluhan ini dapat muncul tiba-tiba, mulai dari rasa nyeri ringan, kekakuan, hingga muncul bunyi seperti retakan saat sendi digerakkan.

Bahkan, mereka yang berusia di kisaran 30 hingga 60 tahun pun tidak jarang mulai merasakan penurunan kenyamanan pada sendi.

Berdasarkan informasi dari Cleveland Clinic, terdapat lebih dari 100 jenis artritis yang dapat memicu nyeri sendi.

Tingkat keparahannya pun bervariasi, mulai dari yang masih bisa ditangani dengan perawatan rumahan hingga kondisi yang memerlukan tindakan medis serius, termasuk operasi.

Penanganan sangat bergantung pada penyebab dan kondisi masing-masing individu.

Asisten Profesor Departemen Fisioterapi Muskuloskeletal KJ Somaiya College of Physiotherapy, Mumbai, Prachi Sravaiya, menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang dan sendi sejak usia muda.

Mengutip Antara dari Hindustan Times, ia menyebut bahwa keterlambatan dalam merawat sendi kerap menjadi penyebab menurunnya kualitas hidup di usia lanjut.

“Sebagai seorang fisioterapis, saya sering menemui pasien yang baru mencari pertolongan saat kondisinya sudah parah. Padahal, dengan gaya hidup yang tepat sejak muda, seseorang tetap bisa bergerak bebas, mandiri, dan minim nyeri saat menua,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar tanda-tanda awal seperti nyeri, kaku, atau pembengkakan sendi tidak dianggap sepele.

Menurutnya, gejala tersebut merupakan sinyal dari tubuh yang bisa berkembang menjadi masalah jangka panjang bila diabaikan.

Pemeriksaan awal, konsultasi dengan dokter ortopedi, serta fisioterapi menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi.

Menjaga tubuh tetap aktif menjadi salah satu kunci utama. Aktivitas fisik berperan besar dalam memperkuat tulang dan menjaga kelenturan sendi.

Olahraga intensitas sedang selama sekitar 30 menit setidaknya tiga kali dalam sepekan dinilai cukup efektif.

Kegiatan sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, yoga, atau olahraga ringan lainnya dapat membantu menjaga kebugaran tanpa membebani sendi.

Selain itu, menjaga berat badan ideal juga berpengaruh besar terhadap kesehatan sendi.

Berat badan berlebih dapat memberi tekanan ekstra pada sendi, terutama lutut dan pinggul.

Pola makan seimbang, ditambah kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari pagi sekitar 15 menit per hari, dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin D dan kalsium yang penting untuk kekuatan tulang.

Asupan cairan pun tidak kalah penting. Air membantu menjaga tulang rawan tetap terlumasi sehingga mengurangi gesekan antartulang.

Konsumsi sekitar 10 hingga 12 gelas air putih setiap hari dianjurkan untuk menjaga fungsi sendi tetap optimal.

Postur tubuh juga perlu mendapat perhatian. Cara berdiri, duduk, berjalan, hingga posisi tidur dapat memengaruhi kondisi tulang dan sendi dalam jangka panjang.

Kebiasaan membungkuk atau duduk dengan posisi yang salah berpotensi memicu gangguan pada tulang belakang.

Oleh karena itu, menjaga posisi tubuh tetap tegak saat duduk maupun berdiri menjadi hal yang penting.

Gerakan sehari-hari yang tampak sepele, seperti mengangkat barang belanjaan atau membungkuk mengambil benda, juga dapat berdampak pada sendi jika dilakukan dengan cara yang salah.

Gerakan mendadak atau tersentak sebaiknya dihindari untuk mencegah cedera pada sendi.

Terakhir, penerapan gaya hidup sehat turut berperan besar dalam menjaga kepadatan tulang.

Menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan sangat dianjurkan, karena kedua kebiasaan tersebut dapat mempercepat penurunan kualitas tulang dan meningkatkan risiko gangguan sendi di kemudian hari.

Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten sejak usia muda, risiko nyeri sendi dapat ditekan, sehingga kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net