fokus6.net, HULU SUNGAI UTARA – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) wilayah Tabalong bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan warga usai menghadiri resepsi pernikahan di Desa Baruh Tabing, Kecamatan Banjang, Hulu Sungai Utara Minggu (1/2/2026).

Tim BPOM langsung mendatangi RSUD Pambalah Batung, Amuntai, untuk memastikan kondisi para korban sekaligus menelusuri sumber kejadian.

Kepala BPOM Wilayah Tabalong, Taufiqurrohman, turun langsung meninjau pasien yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat maupun ruang rawat inap.

Ia juga menyempatkan diri mendatangi rumah warga yang menggelar hajatan guna mengumpulkan informasi awal terkait makanan yang disajikan.

“Begitu menerima laporan adanya dugaan keracunan massal, saya langsung ke RSUD Pambalah Batung. Yang paling penting memastikan kondisi korban dalam keadaan aman dan tidak ada yang fatal,” ujar Taufiqurrohman.

Berdasarkan hasil pemantauan di rumah sakit, ia memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang baik. Kondisi para pasien pun berangsur membaik.

“Dari data terakhir, total ada 128 warga yang sempat dirujuk. Sebanyak 120 orang sudah diperbolehkan pulang, tinggal delapan orang yang masih dirawat dan kondisinya juga stabil,” tambahnya.

Dari hasil skrining awal melalui wawancara langsung dengan para pasien, BPOM menemukan pola yang sama.

Hampir seluruh korban mengaku mengalami gejala mual dan muntah setelah mengonsumsi es buah yang disajikan dalam acara resepsi.

“Indikasi terkuat mengarah ke es buah. Semua korban mengaku mengonsumsinya, dan keluhan muncul sangat cepat, bahkan kurang dari 30 menit setelah dikonsumsi,” jelas Taufiqurrohman.

Selain es buah, BPOM juga mengamankan beberapa sampel makanan lain seperti sop dan soto untuk dilakukan pemeriksaan awal di lapangan.

Namun, dari hasil skrining sementara, dugaan paling kuat tetap mengarah pada minuman es tersebut.

Fakta lain yang terungkap dari investigasi awal adalah proses pembuatan es batu.

Menurut Taufiqurrohman, es batu yang digunakan diketahui berasal dari air PDAM yang tidak melalui proses pemasakan terlebih dahulu.

“Airnya langsung dibekukan menjadi es tanpa dimasak. Ini berpotensi besar menjadi sumber kontaminasi,” ujarnya.

Untuk memastikan penyebab pasti, BPOM masih melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel yang diamankan.

Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium BPOM Tabalong dan Banjarbaru guna mengidentifikasi kemungkinan adanya bakteri atau cemaran lain yang berbahaya.

Ia menegaskan, peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan air mentah untuk konsumsi. Air sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dijadikan es batu demi menjamin keamanannya,” tegasnya.

Dalam penanganan kasus ini, BPOM berperan melakukan pemantauan keracunan pangan sekaligus investigasi lanjutan.

Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar rekomendasi kepada pemerintah daerah, sekaligus bahan edukasi bagi masyarakat.

BPOM juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk meningkatkan kesadaran publik terkait pentingnya keamanan pangan.

Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net