fokus6.net, BANJARMASIN — WALHI Kalimantan Selatan mengungkap penyebab banjir Banjarmasin bukan sekadar faktor alam. Bahkan, organisasi itu menilai kerusakan lingkungan akibat tambang menjadi akar masalah utama.

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Selatan, Raden Rafiq, menegaskan banjir yang sering terjadi berkaitan dengan masifnya izin usaha. Sektor pertambangan dan perkebunan sawit memberi dampak terbesar terhadap lingkungan.

Izin Tambang Picu Banjir Banjarmasin

Berdasarkan data WALHI, izin pertambangan mencakup 1,9 juta hektare dari total luas wilayah 3,7 juta hektare. Angka itu menunjukkan tekanan besar terhadap daya dukung lingkungan Kalimantan Selatan.

“Curah hujan memang tinggi, tetapi dampaknya jauh lebih parah karena lingkungan sudah rusak,” ujar Raden Rafiq, Sabtu (10/1/2026).

Selain itu, banyak perusahaan tambang tidak mematuhi aturan lingkungan dalam menjalankan operasional. Akibatnya, dampak bencana semakin parah setiap tahun.

WALHI Desak Audit Perusahaan Tambang

Oleh karena itu, WALHI mendesak pemerintah pusat dan Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengaudit perusahaan tambang dan sawit. Langkah itu penting guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

Jika pelanggaran terus berlanjut, kerusakan ekosistem berpotensi memicu bencana lebih besar. Selain itu, risiko bencana akan terus meningkat tanpa tindakan tegas.

“Kalau tidak segera diaudit dan ditindak tegas, kerusakan lingkungan akan terus berlanjut,” tandas Raden.

Kondisi itu memperkuat desakan agar penanganan banjir Banjarmasin tidak hanya bertumpu pada respons darurat. Penyelesaian jangka panjang memerlukan penegakan aturan lingkungan yang konsisten.

Penulis/Reporter: Tim Liputan Fokus6.net

Baca juga  Diduga Selewengkan Dana Hibah, Mantan Sekda Balangan Sutikno Duduk di Kursi 'Pesakitan'