Mata Kering hingga Sakit Kepala, Kenali Computer Vision Syndrome Sejak Dini
fokus6.net, JAKARTA – Menjaga kesehatan mata kini menjadi tantangan tersendiri di tengah gaya hidup serba digital.
Penggunaan ponsel, komputer, dan tablet yang hampir tak terpisahkan dari aktivitas harian membuat mata bekerja lebih keras dibandingkan sebelumnya.
Dokter spesialis mata Willibrordus Tantri Winaksa dari RS EMC Cibitung dan Cikarang menjelaskan, ada sejumlah langkah sederhana namun efektif yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif paparan layar terhadap mata.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah menerapkan aturan 20-20-20.
Artinya, setiap 20 menit menatap layar, mata perlu dialihkan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih 6 meter selama 20 detik. Metode ini membantu mengurangi ketegangan pada otot mata.
Selain itu, posisi layar dan pencahayaan ruangan juga memegang peranan penting.
Layar sebaiknya ditempatkan sejajar atau sedikit lebih rendah dari garis pandang mata dengan jarak ideal sekitar 50 hingga 70 sentimeter.
Pencahayaan ruangan perlu dibuat cukup terang tanpa pantulan cahaya langsung ke layar.
Kebiasaan berkedip juga sering diabaikan saat menggunakan gawai. Padahal, berkedip berfungsi menjaga kelembapan permukaan mata.
Willibrordus menekankan pentingnya berkedip secara sadar agar mata tidak mudah kering dan iritasi.
Perhatian khusus juga perlu diberikan pada anak-anak. Penggunaan gawai yang berlebihan pada usia dini berisiko meningkatkan gangguan refraksi, seperti rabun jauh atau miopia.
Orang tua disarankan membatasi waktu layar serta mendorong anak untuk lebih sering beraktivitas di luar ruangan.
Tak kalah penting, pemeriksaan mata secara rutin dianjurkan, terutama bagi mereka yang menghabiskan lebih dari enam jam sehari di depan layar.
Deteksi dini dapat mencegah gangguan penglihatan berkembang lebih parah.
Willibrordus mengingatkan agar masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter mata jika keluhan tidak kunjung membaik meski penggunaan layar sudah dikurangi.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain mata terasa perih atau nyeri, penglihatan buram yang menetap, mata merah dalam waktu lama, serta sakit kepala yang sering muncul setelah menatap layar.
“Dokter mata akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari penyebab keluhan dan menentukan terapi yang tepat, mulai dari obat tetes mata, koreksi kacamata, hingga edukasi kebiasaan visual yang lebih sehat,” ujar Willibrordus, dikutip dari laman EMC, Senin (2/2/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa kondisi yang dikenal sebagai Digital Eye Strain atau Computer Vision Syndrome semakin sering ditemui di era digital.
Hampir seluruh aktivitas, baik bekerja, belajar, maupun hiburan, kini bergantung pada layar elektronik.
Menatap layar dalam durasi panjang tanpa jeda dapat memicu berbagai keluhan, seperti mata terasa berat, kering atau justru berair, pandangan kabur, sulit fokus, sakit kepala, hingga nyeri pada leher dan bahu. Keluhan ini dapat dialami oleh semua kelompok usia, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Salah satu penyebab utama mata cepat lelah saat menatap layar adalah penurunan frekuensi berkedip. Saat fokus pada layar digital, seseorang bisa berkedip hingga 50 persen lebih sedikit dari normal, sehingga mata menjadi lebih kering dan mudah lelah.
Paparan cahaya biru dari layar juga turut meningkatkan ketegangan mata, terutama jika digunakan dalam waktu lama tanpa istirahat yang cukup.
“Posisi layar yang tidak ergonomis, pencahayaan yang kurang tepat, serta penggunaan kacamata yang tidak sesuai dapat memperburuk kondisi mata,” jelas Willibrordus.
Dengan meningkatnya ketergantungan pada perangkat digital, menjaga kesehatan mata bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan penting untuk menunjang produktivitas dan kualitas hidup sehari-hari.
Penulis/Reporter: Tim Liputan fokus6.net


Tinggalkan Balasan